Wednesday, November 08, 2017

Kata dan Tindakan

Cilegon

Beberapa waktu lalu makan siang bersama seorang teman di salah satu mal di Cilegon. Oia, hanya ada tiga mal di Cilegon, jadi bisa dikira-kira makan di mana :) Kami sedang melihat-lihat buku menu ketika saya sadar ada seorang ibu dan dua orang putrinya datang dan duduk di bangku sebelah kami. Awalnya biasa saja (kayak lirik lagu), sampai ketika makanan mereka datang.

Kedua anak itu kira-kira kelas 4-6 SD. Salah satunya sedang fokus melihat ke arah hp yang ada di tangannya. Ibu itu lalu berkata, "Udah main hpnya, makan dulu!", sambil meminta anak itu untuk menyerahkan hpnya ke ibunya. Memang tidak langsung diberikan, tapi akhirnya si anak menyerahkan hp yang ternyata adalah kepunyaan ibunya. Makanan saya datang jadi tidak memperhatikan mereka lagi. Tapi dalam hati salut juga sama ibu ini, tegas dengan anaknya untuk urusan hp di meja makan.

Lagi asyik menikmati makanan, saya melihat ke sebelah dan ternyata ibu tadi yang sekarang asyik memainkan hpnya. Masih dengan berbaik sangka, oh mungkin ada telepon atau pesan penting. Loh tapi kok lama ya, bahkan kedua anaknya terkesan diabaikan. 

Mereka selesai makan lebih dahulu daripada saya. Sampai ibu itu meminta tagihan, dia masih fokus sekali dengan hpnya padahal sudah pasti anak yang duduk di depannya memperhatikannya. Tindakan tidak selaras dengan kata-kata.

Tuesday, December 20, 2016

Matikan Media Sosialmu!

Bekasi, 20 Desember 2016 


Berawal dari percakapan utara-selatan (ngalor ngidul) di Twitter dengan seorang kawan, sebut saja Snoopy, tercetuslah ide tantangan matikan media sosial ini. Kami mulai lelah hayati dengan media sosial ini, terutama Twitter, Instagram, dan Facebook walau sebenarnya kami perlu juga informasi (yang akurat) dari media-media itu. Tapi akhir-akhir ini, terlebih lagi dengan suasana politik negara, media banyak disalahgunakan. Sebenarnya bukan hanya politik, sebelumnya juga banyak pengguna yang menyalahgunakan media sosial untuk memojokan seseorang. Selain itu, informasi dari Snoopy, ada lingkaran pengguna media sosial, yang memanfaatkan lingkaran itu untuk kepentingan golongan, misalnya penjurian lomba-lomba yang berhubungan dengan media sosial. Ada pula kaum muda yang melakukan hal-hal tertentu, kadang tidak sesuai dengan diri mereka, demi eksis di media sosial. Hebat kawan bernama Snoopy ini, tahu info banyak. :D



Dari keresahan-keresahan itu, muncullah ide untuk mematikan media sosial, tidak melakukan kegiatan (menulis status, retweet dll) di media sosial yang kami punya yaitu Twitter, Instagram dan Facebook. Awalnya kami ingin melakukannya selama sebulan. Namun, langkah besar dimulai dari langkah pertama. Maka kami mulai dengan jangka waktu seminggu, mulai dari Senin 12 Desember 2016 hingga 18 Desember 2016. Saya pun bilang ke Snoopy, godaan berat juga, karena di minggu itu ada final piala AFF 2016, Indonesia vs Thailand, dan keinginan untuk menulis status lumayan besar. Tapi kita tidak akan tahu bila tidak dicoba. Challenge accepted.



Hari pertama saya lalui dengan lumayan, sempat juga mau membuka twitter tapi langsung teringat tantangan ini. Tantangan di hari kedua hingga hari terakhir bisa dilewati. Apa pengalaman yang bisa saya ambil dari tantangan ini? Ternyata ada beberapa hal. Pertama, menahan diri itu butuh niat yang kuat dan teman juga bisa membantu memperkuat niat ini. Thanks Snoopy! Kedua, selesai menjalankan tantangan, intensitas untuk membuka media sosial tidak sebesar dulu. Ketiga, waktu yang tadinya digunakan untuk mengakses media sosial, bisa digunakan untuk hal lainnya. Misalnya jadi lebih fokus membuat proposal, membersihkan ruangan yang tadinya cuma niat-niat belaka. Keempat, tidak mengikuti trending topic yang nyeleneh membuat otak sedikit beristirahat. Itulah sedikitnya empat hal yang bisa saya dapatkan dari tantangan matikan media sosialmu.



Sudah dua hari berlalu dari ditutupnya tantangan itu, saya hanya melihat twitter dan instagram sesekali, tapi masih belum membuka facebook. Bahkan kawan Snoopy berniat untuk lanjut tidak membuka Facebook hingga akhir tahun, dan saya sepakat :D. Kalau ada untungnya, kenapa tidak coba untuk matikan media sosialmu? Setidaknya untuk sementara waktu.

Sunday, January 10, 2016

Donor Darah

Bekasi, 

Hari ini saya mendonorkan darah di GKI Hankam, Pondok Gede. Beberapa hari sebelumnya saya sudah melihat spanduk yang terbentang di depan gereja itu. Setelah yakin bahwa badan sehat dan kuat, sekitar jam 10 an, saya naik angkot menuju gereja. Karena ada mobil PMI di parkiran, maka saya pun masuk ke dalam gereja. 

Sempat agak bingung harus gimana, karena petugas PMI yang berbaju merah tidak mengatakan apa - apa. Begitu pula dengan petugas dari gereja. Tapi saya melihat form merah di sana, jadi lah saya ikut mengisi di sana dan menyerahkan ke petugas paling dekat pintu. Darah di cek dengan mengambil sampelnya dari jari manis sebelah kanan, syukurlah Hb memenuhi syarat. Saya berpindah meja dan petugas lain memeriksa tekanan darahku. Lagi - lagi saya bersyukur, tekanannya normal. Dua pemeriksaan ini yang buat was - was. Karena bila tidak sesuai ketentuan, artinya harus pulang dan belum boleh mendonor.

Sesudah menunggu, akhirnya giliran untuk berbaring dan diambil darahnya. Ibu petugas sempat kesulitan sebentar mencari tempat untuk menusukkan jarumnya, tapi teratasi. Beberapa menit berlalu, akhirnya kantong darah sudah penuh. Petugas PMI mengambil juga sampel darah untuk ditaruh di dua atau tiga botol kecil. Dan, selesai! Tidak lupa saya mengambil makanan dan kartu donor darah yang sudah diisi. Syukurlah hari ini lancar. Ini adalah donor darah ketiga, tapi kedua kali yang tercatat di kartu, karena pertama kali saya mendonorkan darah, karena kebutuhan mendesak, belum punya kartu.

Jadi teringat pertama kali mendonorkan darah. Ceritanya cukup panjang. Secara singkat, ibu dari seorang teman yang baru saya kenal beberapa hari masuk rumah sakit. Sebenarnya ibu ini memang sudah sakit dari lama dan butuh bantuan darah. Saat itu rumah sakit kehabisan golongan darah untuk ibu ini. Anak - anaknya yang golongan darah sama sudah diambil darahnya tapi masih kurang. Ternyata golongan darahnya sama dengan punya saya. Awalnya sempat takut untuk donor, takut dengan jarum suntiknya, takut ngeliat darah yang banyak, dan masih banyak lagi. Tapi ini untuk membantu orang lain, semua rasa takut disingkirkan. Untungnya saya boleh mendonor dan semuanya lancar. Ibu itu masih bisa hidup untuk melihat anaknya menikah beberapa bulan kemudian.

Semenjak itu timbul keinginan untuk donor lebih rutin. Tapi kadang waktu donor dari tempat - tempat yang saya tahu, tidak pas. Kadang saya sedang datang bulan, atau sedang tidak fit. Jadilah donor kedua, kira - kira tiga tahun setelahnya setelah mencari tahu syarat untuk mendonor dengan baik. 

Hari ini donor ketiga, 2 tahun setelahnya. Tadi ada beberapa orang yang sudah mendonor sampai 15 kali atau lebih, keren sekali. Semoga saya bisa seperti mereka. :)
Bekasi, 

Hari ini saya mendonorkan darah di GKI Hankam, Pondok Gede. Beberapa hari sebelumnya saya sudah melihat spanduk yang terbentang di depan gereja itu. Setelah yakin bahwa badan sehat dan kuat, sekitar jam 10 an, saya naik angkot menuju gereja. Karena ada mobil PMI di parkiran, maka saya pun masuk ke dalam gereja. 

Sempat agak bingung harus gimana, karena petugas PMI yang berbaju merah tidak mengatakan apa - apa. Begitu pula dengan petugas dari gereja. Tapi saya melihat form merah di sana, jadi lah saya ikut mengisi di sana dan menyerahkan ke petugas paling dekat pintu. Darah di cek dengan mengambil sampelnya dari jari manis sebelah kanan, syukurlah Hb memenuhi syarat. Saya berpindah meja dan petugas lain memeriksa tekanan darahku. Lagi - lagi saya bersyukur, tekanannya normal. Dua pemeriksaan ini yang buat was - was. Karena bila tidak sesuai ketentuan, artinya harus pulang dan belum boleh mendonor.

Sesudah menunggu, akhirnya giliran untuk berbaring dan diambil darahnya. Ibu petugas sempat kesulitan sebentar mencari tempat untuk menusukkan jarumnya, tapi teratasi. Beberapa menit berlalu, akhirnya kantong darah sudah penuh. Petugas PMI mengambil juga sampel darah untuk ditaruh di dua atau tiga botol kecil. Dan, selesai! Tidak lupa saya mengambil makanan dan kartu donor darah yang sudah diisi. Syukurlah hari ini lancar. Ini adalah donor darah ketiga, tapi kedua kali yang tercatat di kartu, karena pertama kali saya mendonorkan darah, karena kebutuhan mendesak, belum punya kartu.

Jadi teringat pertama kali mendonorkan darah. Ceritanya cukup panjang. Secara singkat, ibu dari seorang teman yang baru saya kenal beberapa hari masuk rumah sakit. Sebenarnya ibu ini memang sudah sakit dari lama dan butuh bantuan darah. Saat itu rumah sakit kehabisan golongan darah untuk ibu ini. Anak - anaknya yang golongan darah sama sudah diambil darahnya tapi masih kurang. Ternyata golongan darahnya sama dengan punya saya. Awalnya sempat takut untuk donor, takut dengan jarum suntiknya, takut ngeliat darah yang banyak, dan masih banyak lagi. Tapi ini untuk membantu orang lain, semua rasa takut disingkirkan. Untungnya saya boleh mendonor dan semuanya lancar. Ibu itu masih bisa hidup untuk melihat anaknya menikah beberapa bulan kemudian.

Semenjak itu timbul keinginan untuk donor lebih rutin. Tapi kadang waktu donor dari tempat - tempat yang saya tahu, tidak pas. Kadang saya sedang datang bulan, atau sedang tidak fit. Jadilah donor kedua, kira - kira tiga tahun setelahnya setelah mencari tahu syarat untuk mendonor dengan baik. 

Hari ini donor ketiga, 2 tahun setelahnya. Tadi ada beberapa orang yang sudah mendonor sampai 15 kali atau lebih, keren sekali. Semoga saya bisa seperti mereka. :)

Thursday, December 31, 2015

Bukan hari terakhir

Bekasi, 31 Desember 2015

Tadi jogging pagi, lumayan lah satu jam, walau banyak jalan kakinya. Mesti lebih rutin lagi. Tadi ada percakapan penjual dan pembeli ketika saya sedang berjalan.


Pembeli: "Bang, kok harga rotinya jadi mahal?"

Penjual: "Iya, mau tahun baruan."

Apa hubungannya harga mahal dengan tahun baru? Kalau mahal karena bahan baku ga ada, oke. Mahal karena yang jual sedikit oke, lah ini karena tahun baru. Bisa jadi besok, kalau harganya tetap mahal, begini percakapannya.


Pembeli: "Kok harganya naik Bang?"

Penjual: "Iya, abis tahun baruan."

Tahun baru jadi alasan, haha. Kesannya setelah tahun baru, abangnya ga jualan lagi. Ini bukan hari terakhir, tapi ini hari Kamis dan besok hari Jumat. Kata temen, ganti hari doang kok.


Jadi terpikir, bagaimana seharusnya menyambut tahun baru? Beberapa tahun lalu, saya menyambut tahun baru dengan resolusi-resolusi sepereti kebanyakan orang. Tapi nyatanya di tanggal 1 Januari nya, kelakuan sama aja, padahal masih tanggal 1 Januari. 


Semoga perubahan perilaku tidak hanya dimulai di awal tahun, tapi bisa kapan saja, kalau bisa secepatnya, tidak nunggu akhir tahun berlalu.

Saturday, November 28, 2015

Kilas Balik 90an

Bekasi, 28 November 2015

Seringnya percakapan dengan teman mengingat masa lalu. Jadi sekarang mulai dituliskan saja. Kali ini saya beri nama kilas balik 90an, karena bahasannya mengenai masa SD dan SMP, jadi sekitar tahun 1991 sampai 2000. 

Telepon. Semua orang tahu penemu telepon Bapak Graham Bell, walau sempat baca ternyata beliau bukanlah yang pertama menemukan telepon. Di masa kini, yang kekinian, orang sudah amat sangat familiar dengan telepon genggam atau sering dibilang hp. Saat ini pun hp ada berbagai macam merek dan ukuran. Dari yang kecil (tapi sudah jarang dipakai) hingga sebesar tablet (bukan obat).

Saya dan seorang teman teringat saat jaman SD dan SMP, bahkan sampai pertengahan SMA, kami hanya punya telepon rumah dan begitu diidolakannya telepon umum. Keluarga saya sendiri punya telepon juga karena orang tua mempunyai warung dan menelepon saudara di kampung. 

Kring... Kring... 
Begitu telepon rumah berbunyi, saya selalu ingin mengangkat karena itu adalah hal menyenangkan. :) 
Karena telepon digunakan untuk hal yang penting menurut masing - masing anggota keluarga. Misalnya teman menelepon untuk menanyakan pr, atau mengabarkan tidak masuk sekolah karena sakit. Jadi percakapannya tidak panjang, karena biaya telepon masih lumayan mahal jaman itu.


Satu lagi, telepon umum. Telepon yang menggunakan koin agar bisa dimanfaatkan ini, jadi alat penghubung bagi saya. Kadang kami menelepon teman lain atau mengerjai teman. Tidak baik memang, hahaha. Koin yang digunakan ada 50 dan 100 kalau ga salah. Ketika telepon tidak diangkat, biasanya orang lekas - lekas menekan gagang yang ada di sana, agar uangnya bisa keluar lagi. :)

Sekian dulu, telepon di jaman dulu.