Lampung,
Tiga hari terakhir, ketika di kamar, dalam perjalanan di bus, dan beberapa tempat lain, aku memikirkan satu kata tetapi banyak cerita, pemikiran, orang yang terlibat di dalamnya. Kata itu adalah SEKOLAH. Saat itu aku sedang mencari dalam pikiranku, apa itu sekolah? Bagaimana definisi sekolah yang ideal? Sebelum aku lupa tentang semua yang berkecamuk ini, aku tuliskan sejenak, semua ini adalah sebuah opini.
Sekolah itu tempat yang digunakan oleh seseorang atau beberapa orang untuk menambah pengetahuannya. Pengetahuan itu bisa bermacam-macam. Peran penting yang mesti ada di sekolah yaitu murid dan guru. Sekolah tidak harus berupa gedung atau bangunan fisik belaka. Jika ada satu murid dan satu guru, maka jadilah sekolah. Lagi-lagi ini adalah sebuah opini. Aku mau menuliskan satu persatu.
Murid... Definisi murid? Mesti liat kamus dulu kali ya.. Bagiku, murid adalah seorang yang mau mencari pengetahuan, selalu ingin tahu tentang apa yang ia dapat dan temui. Sekarang pun aku masih seorang murid. Seorang yang disebut sebagai murid tidak terbatas pada umur. Ketika masih bayi, remaja, dewasa, atau bahkan ketika ia sudah mempunyai cucu, sebenarnya kita adalah seorang murid. Seorang bayi belajar berjalan, mengucapkan kata, menggenggam, melihat, tersenyum dan lain-lain. Anak-anak dan remaja belajar mengenal sekitar mereka, alam, bangunan, dan berkomunikasi dengan orang lain. Orang dewasa belajar untuk hidup mandiri, melayani sesama, mengasuh anak. Kakek dan nenek belajar sabar terhadap anak-anak dan cucu-cucu mereka, belajar menjadi pengasuh, belajar untuk tabah dan bijaksana. Waw, ternyata kehidupan kita selalu diisi dengan belajar.
Sekarang, tentang guru. Siapa guru itu? Apakah hanya orang-orang yang menempuh pendidikan guru formal, orang yang mendapat akta IV, atau orang-orang yang mempunyai gelar saja? Menurutku, tidak. Aku belajar dari ayahku (yang hanya tamat SMA dan bekerja sebagai pedagang) dan ibuku (seorang ibu rumah tangga). Sepertinya kemampuan berhitungku lebih baik karena sesekali aku menjaga warung dan membantu ayahku untuk membuat harga sebuah barang sehingga kami bisa untung tapi harga itu tidak mahal bagi pelanggan warung kami. Dari ibuku, aku belajar tentang kehidupan di rumah. Kadang aku kesal, karena hanya diberi tugas mencuci piring dan menggoreng bahkan sampai aku kuliah. Tapi bekal itu sangat cukup dan bisa kupakai sekarang. Aku belajar dari abang-abangku, tentang menaikkan layang-layang, mengendarai sepeda, bermain kelereng. Aku belajar dari tukang mie ayam, pedagang jamu yang jualan di dekat rumahku. Aku belajar dari teman-temanku. Aku belajar dari ayam, kucing, ikan, dan burung-burung yang pernah menjadi peliharaanku. Aku belajar dari tanaman, hujan, matahari, langit. Rasa-rasanya aku boleh menyebut semua itu adalah guruku.
Sekian dulu yang bisa kubagi. Semoga akan ada bagian kedua, ketiga, dst.
Sunday, March 27, 2011
Saturday, March 26, 2011
Long March
Lampung,
Kemarin Jumat malam sampai Sabtu subuh, di sekolah ku ada suatu kegiatan yang dinamakan Long March. Artinya sendiri bukan Maret yang panjang, hehe.. Tapi sepertinya bisa diartikan seperti perjalanan panjang secara bersama-sama. Nah di sekolah ku, kegiatan ini dilaksanakan setahun sekali, biasanya bertepatan dengan bulan Maret. Untuk tahun ini, jarak yang kami tempuh (murid, guru, staff, hk) sekitar 17 km. Wew! Trek yang kami hadapi menantang sekali, karena tanah liat dan hujan baru saja reda, coba bayangkan! hehe..
Aku menjadi pembimbing grup, dan grup ku adalah grup 6. Anak-anak di grupku ini beragam, tapi secara keseluruhan tidak ada yang egois. Bahkan mereka turut memberikan semangat kepada teman-temannya yang kadang tertinggal di belakang. Ada juga anggota grup yang lucu, suka bercerita, sehingga perjalanan tidak membosankan.
Kalimat yang sering diucapkan anak-anak grupku dalam perjalanan:
1. "Udin, tungguin..!" (Udin adalah [pemimpin grup kami)
2. "Yang depan, tungguin temannya.. yang belakang dipercepat!"
3. "Goyang, joss.. senggol joss.."
4. "Tiba-tiba... "" (baca dengan versi silet)
Sekilas pengalaman unik dengan mereka. Sudah tiga kali aku mengikuti long march, dan selalu ada pengalaman baru. Terima kasih murid-muridku..
Kemarin Jumat malam sampai Sabtu subuh, di sekolah ku ada suatu kegiatan yang dinamakan Long March. Artinya sendiri bukan Maret yang panjang, hehe.. Tapi sepertinya bisa diartikan seperti perjalanan panjang secara bersama-sama. Nah di sekolah ku, kegiatan ini dilaksanakan setahun sekali, biasanya bertepatan dengan bulan Maret. Untuk tahun ini, jarak yang kami tempuh (murid, guru, staff, hk) sekitar 17 km. Wew! Trek yang kami hadapi menantang sekali, karena tanah liat dan hujan baru saja reda, coba bayangkan! hehe..
Aku menjadi pembimbing grup, dan grup ku adalah grup 6. Anak-anak di grupku ini beragam, tapi secara keseluruhan tidak ada yang egois. Bahkan mereka turut memberikan semangat kepada teman-temannya yang kadang tertinggal di belakang. Ada juga anggota grup yang lucu, suka bercerita, sehingga perjalanan tidak membosankan.
Kalimat yang sering diucapkan anak-anak grupku dalam perjalanan:
1. "Udin, tungguin..!" (Udin adalah [pemimpin grup kami)
2. "Yang depan, tungguin temannya.. yang belakang dipercepat!"
3. "Goyang, joss.. senggol joss.."
4. "Tiba-tiba... "" (baca dengan versi silet)
Sekilas pengalaman unik dengan mereka. Sudah tiga kali aku mengikuti long march, dan selalu ada pengalaman baru. Terima kasih murid-muridku..
Friday, February 25, 2011
Tawa
Lampung,
Sudah lama aku tidak tertawa sampai terpingkal-pingkal. Berawal dari kegiatan ekstrakurikuler yang aku bimbing. Aku membagi 14 anak bimbinganku menjadi empat kelompok. Aku minta mereka untuk membuat atau memodifikasi suatu trik kartu dan menampilkan di depan teman-teman mereka. Tibalah giliran Ikhwan, Vallian, dan Purbo untuk menampilkan trik kartu mereka. Vallian dan Ikhwan menampilkan trik mereka. Kemudian aku meminta Purbo untuk menampilkan trik yang dia punya di depan teman-temannya.
Dia pun menampilkan trik kartu yang dia miliki. Tapi kurangnya kecepatan tangannya membuat trik itu mudah diketahui oleh teman-temannya.
Purbo: "Pura-pura ga tau loh.."
Teman-teman: "dah kelihatan itu loh.."
Saat itu aku tertawa keras, tidak terkontrol sepertinya. Muka dan tingkah laku Purbo ketika tampil begitu lucu. Ikhwan, Vallian dan Lena pun tertawa untuk beberapa lama.
Terima kasih atas tawa itu. Kenangan yang membahagiakan.
Sudah lama aku tidak tertawa sampai terpingkal-pingkal. Berawal dari kegiatan ekstrakurikuler yang aku bimbing. Aku membagi 14 anak bimbinganku menjadi empat kelompok. Aku minta mereka untuk membuat atau memodifikasi suatu trik kartu dan menampilkan di depan teman-teman mereka. Tibalah giliran Ikhwan, Vallian, dan Purbo untuk menampilkan trik kartu mereka. Vallian dan Ikhwan menampilkan trik mereka. Kemudian aku meminta Purbo untuk menampilkan trik yang dia punya di depan teman-temannya.
Dia pun menampilkan trik kartu yang dia miliki. Tapi kurangnya kecepatan tangannya membuat trik itu mudah diketahui oleh teman-temannya.
Purbo: "Pura-pura ga tau loh.."
Teman-teman: "dah kelihatan itu loh.."
Saat itu aku tertawa keras, tidak terkontrol sepertinya. Muka dan tingkah laku Purbo ketika tampil begitu lucu. Ikhwan, Vallian dan Lena pun tertawa untuk beberapa lama.
Terima kasih atas tawa itu. Kenangan yang membahagiakan.
Kartu
"Lelah itu tidak terasa ketika melihat rasa antusias mereka"
Salah satu topik yang ada di kelas XI adalah trigonometri. Bagi hampir sebagian besar siswa, topik ini menakutkan dan mencekam :), karena sepertinya begitu banyak rumus.Memang benar adanya bahwa rumus trigonometri di kelas XI ada banyak. Oleh karena itu aku menekankan untuk memahami cara penurunan rumus tersebut bukan menghapalnya. Walau begitu, tetap ada beberapa murid yang lebih suka untuk menghapal saja. Aku sendiri masih belum menemukan cara yang tepat untuk mengatasi ini. Aku mengajak mereka membaca penurunan rumus, menurunkan rumus bersama-sama, membuat lembar kerja penurunan rumus, puzzle untuk membentuk rumus-rumus, peta pikiran, dan permainan kartu trigonometri. Dua solusi terakhir cukup membantu mereka. Peta pikiran yang mereka buat membantu mereka merangkum rumus-rumus yang telah mereka dapat. Terlebih lagi permainan kartu beregu yang melatih daya ingat, strategi, dan kemampuan kerja sama mereka. Siswa-siswa yang biasanya memerlukan waktu lebih untuk memahami suatu hal, menjadi siswa-siswa yang cepat berpikir dan mampu menyusun kartu dengan baik. Semua siswa menikmati keasyikan dan kesenangan dalam menyusun kartu-kartu tersebut. Rasa senang, antusias, tawa, terkejut, penasaran mereka membuat lelah dan masalah yang ada tidak terasa lagi, tergantikan rasa bahagia.

Pekerjaan yang berguna.. :D
Pekerjaan yang berguna.. :D
Wednesday, February 09, 2011
Untaian Kata
"Kata-kata teringat seumur hidup"
Lampung,
Ketika aku ada di bangku SMA, aku punya guru matematika yang unik dan lucu. Beliau seringkali bercanda dengan kami, murid-muridnya. Suatu saat ada tukang rujak bebeg lewat di depan sekolah kami. Beliau pun berucap dengan suara bassnya di depan kelas: "Hmm.. makan rujak bebeg siang-siang enak juga kali ya.." Aku pun tertawa mendengarnya karena gaya beliau mengucapkannya lucu dan sepertinya beliau memang ingin makan rujak itu.
Lain waktu, salah seorang teman sekelasku bertingkah jahil/iseng ke temanku yang lain dan membuat sedikit keributan. Beliau melihat kejadian itu, lalu berkata: "Hmm, hmm, Andi.. Andi.." sambil menggelengkan kepalanya. Tentu saja tidak ada yang takut dengan perkataannya. Tapi kami semua tersenyum dan Andi pun kembali ke tempat duduknya.
Guruku itu membuat suasana kelas santai tapi teratur. Beliau pun pernah memberi kepercayaan kepadaku dan temanku. Kami berdua diminta untuk memeriksa hasil pekerjaan siswa-siswa dari kelas lin. Saat itu aku bangga karena mendapat tugas tersebut. Beliau jarang meminta anak-anak untuk memeriksa ulangan siswa lain. Betapa kata-katanya masih kuingat sampai sekarang. Terima kasih Pak Didi.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku pun melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, di salah satu institut pendidikan di Indonesia. Kala itu di salah satu mata kuliah, aku dan teman-temanku mendapat ujian untuk presentasi di depan dosenku. Tugas ini yang akan menentukan nilai untuk mata kuliah tersebut. Aku menyiapkan slide dan mencoba latihan presentasi. Tiba waktunya, secara bergantian, satu per satu dari kami masuk ke ruang kuliah dan mempresentasikan tugas kami di depan dosen tersebut. Aku berusaha sebaik mungkin. Setelah aku selesai presentasi, beliau memberi masukan kepadaku mengenai slide yang aku buat. Aku pun menerima sarannya karena memang benar yang dikatakannya.
Kemudian beliau memberikan nasehat kepadaku dan berkata: "Sebenarnya kamu dapat nilai C tapi karena saya kasian, kamu dapat B. Ingat-ingat itu ya.." Yup, aku tetap ingat kalimat itu, yang kadang masih sakit ku rasa. Aku mendapat nilai karena rasa kasian bukan karena kemampuanku. Saat keluar dari ruangan, bukan bahagia karena mendapa nilai B, tapi aku malah berpikir: apakah aku memang tidak layak mendapat nilai baik? Kenapa tidak diberikan nilai C saja. Sayangnya aku tidak mengungkapkan pemikiranku kepada beliau, sehingga aku masih mengingat perkataannya.
Setiap kali aku ingat kejadian itu, aku jadi berhati-hati untuk berucap. Seringkali aku asal bicara kepada seseorang dan baru sadar keesokan harinya.
Jadilah orang yang berkata-kata dengan baik. ^_^
Tuesday, October 12, 2010
Model
Lampung,
Dia berkata bahwa seorang guru adalah model bagi murid-muridnya. Tapi tadi siang, ada satu perbuatan yang tidak mencerminkan perkataannya. Entah karena aku bukan orang pemberani atau tak sadarkah ia bahwa banyak murid melihat perbuatannya itu. Selama ini, aku melihatnya sebagai orang yang sudah berpengalaman di bidang pendidikan. Ia mengetahui banyak sekali metode pengajaran. Ia mengaplikasikan hal berbeda ketika mengajar. Ia punya banyak ide. Tapi sekali lagi, sikapnya tadi siang tidak mencerminkan perkataannya itu.
Ini menjadi pelajaran juga bagiku agar aku tetap bersikap seperti seharusnya.
Dia berkata bahwa seorang guru adalah model bagi murid-muridnya. Tapi tadi siang, ada satu perbuatan yang tidak mencerminkan perkataannya. Entah karena aku bukan orang pemberani atau tak sadarkah ia bahwa banyak murid melihat perbuatannya itu. Selama ini, aku melihatnya sebagai orang yang sudah berpengalaman di bidang pendidikan. Ia mengetahui banyak sekali metode pengajaran. Ia mengaplikasikan hal berbeda ketika mengajar. Ia punya banyak ide. Tapi sekali lagi, sikapnya tadi siang tidak mencerminkan perkataannya itu.
Ini menjadi pelajaran juga bagiku agar aku tetap bersikap seperti seharusnya.
Wednesday, October 06, 2010
Keluarga
Lampung...
Beberapa hari ini (sudah hampir seminggu), aku banyak memikirkan tentang orang tua dan abang-abangku. Keadaan mereka hari ini, apakah dagangan lancar, apakah semua berjalan lancar, apakah semua tercukupi, apakah semua bisa teratasi. Berbicara tentang keluarga, seringkali membuatku harus mengeluarkan air dari kedua mataku. Kadang memang karena aku merasa sedih, di lain kali karena aku bahagia. Sampai pada titik ini, aku merasa bahagia sebab keluargaku berkumpul. Tapi ada pula yang membuatku sedih. Jika hidup memang dapat diibaratkan seperti lingkaran, kapankah kami dapat naik sedikit saja dari bagian bawah ini?
Beberapa hari ini (sudah hampir seminggu), aku banyak memikirkan tentang orang tua dan abang-abangku. Keadaan mereka hari ini, apakah dagangan lancar, apakah semua berjalan lancar, apakah semua tercukupi, apakah semua bisa teratasi. Berbicara tentang keluarga, seringkali membuatku harus mengeluarkan air dari kedua mataku. Kadang memang karena aku merasa sedih, di lain kali karena aku bahagia. Sampai pada titik ini, aku merasa bahagia sebab keluargaku berkumpul. Tapi ada pula yang membuatku sedih. Jika hidup memang dapat diibaratkan seperti lingkaran, kapankah kami dapat naik sedikit saja dari bagian bawah ini?
Subscribe to:
Posts (Atom)