Sunday, January 10, 2016

Donor Darah

Bekasi, 

Hari ini saya mendonorkan darah di GKI Hankam, Pondok Gede. Beberapa hari sebelumnya saya sudah melihat spanduk yang terbentang di depan gereja itu. Setelah yakin bahwa badan sehat dan kuat, sekitar jam 10 an, saya naik angkot menuju gereja. Karena ada mobil PMI di parkiran, maka saya pun masuk ke dalam gereja. 

Sempat agak bingung harus gimana, karena petugas PMI yang berbaju merah tidak mengatakan apa - apa. Begitu pula dengan petugas dari gereja. Tapi saya melihat form merah di sana, jadi lah saya ikut mengisi di sana dan menyerahkan ke petugas paling dekat pintu. Darah di cek dengan mengambil sampelnya dari jari manis sebelah kanan, syukurlah Hb memenuhi syarat. Saya berpindah meja dan petugas lain memeriksa tekanan darahku. Lagi - lagi saya bersyukur, tekanannya normal. Dua pemeriksaan ini yang buat was - was. Karena bila tidak sesuai ketentuan, artinya harus pulang dan belum boleh mendonor.

Sesudah menunggu, akhirnya giliran untuk berbaring dan diambil darahnya. Ibu petugas sempat kesulitan sebentar mencari tempat untuk menusukkan jarumnya, tapi teratasi. Beberapa menit berlalu, akhirnya kantong darah sudah penuh. Petugas PMI mengambil juga sampel darah untuk ditaruh di dua atau tiga botol kecil. Dan, selesai! Tidak lupa saya mengambil makanan dan kartu donor darah yang sudah diisi. Syukurlah hari ini lancar. Ini adalah donor darah ketiga, tapi kedua kali yang tercatat di kartu, karena pertama kali saya mendonorkan darah, karena kebutuhan mendesak, belum punya kartu.

Jadi teringat pertama kali mendonorkan darah. Ceritanya cukup panjang. Secara singkat, ibu dari seorang teman yang baru saya kenal beberapa hari masuk rumah sakit. Sebenarnya ibu ini memang sudah sakit dari lama dan butuh bantuan darah. Saat itu rumah sakit kehabisan golongan darah untuk ibu ini. Anak - anaknya yang golongan darah sama sudah diambil darahnya tapi masih kurang. Ternyata golongan darahnya sama dengan punya saya. Awalnya sempat takut untuk donor, takut dengan jarum suntiknya, takut ngeliat darah yang banyak, dan masih banyak lagi. Tapi ini untuk membantu orang lain, semua rasa takut disingkirkan. Untungnya saya boleh mendonor dan semuanya lancar. Ibu itu masih bisa hidup untuk melihat anaknya menikah beberapa bulan kemudian.

Semenjak itu timbul keinginan untuk donor lebih rutin. Tapi kadang waktu donor dari tempat - tempat yang saya tahu, tidak pas. Kadang saya sedang datang bulan, atau sedang tidak fit. Jadilah donor kedua, kira - kira tiga tahun setelahnya setelah mencari tahu syarat untuk mendonor dengan baik. 

Hari ini donor ketiga, 2 tahun setelahnya. Tadi ada beberapa orang yang sudah mendonor sampai 15 kali atau lebih, keren sekali. Semoga saya bisa seperti mereka. :)
Bekasi, 

Hari ini saya mendonorkan darah di GKI Hankam, Pondok Gede. Beberapa hari sebelumnya saya sudah melihat spanduk yang terbentang di depan gereja itu. Setelah yakin bahwa badan sehat dan kuat, sekitar jam 10 an, saya naik angkot menuju gereja. Karena ada mobil PMI di parkiran, maka saya pun masuk ke dalam gereja. 

Sempat agak bingung harus gimana, karena petugas PMI yang berbaju merah tidak mengatakan apa - apa. Begitu pula dengan petugas dari gereja. Tapi saya melihat form merah di sana, jadi lah saya ikut mengisi di sana dan menyerahkan ke petugas paling dekat pintu. Darah di cek dengan mengambil sampelnya dari jari manis sebelah kanan, syukurlah Hb memenuhi syarat. Saya berpindah meja dan petugas lain memeriksa tekanan darahku. Lagi - lagi saya bersyukur, tekanannya normal. Dua pemeriksaan ini yang buat was - was. Karena bila tidak sesuai ketentuan, artinya harus pulang dan belum boleh mendonor.

Sesudah menunggu, akhirnya giliran untuk berbaring dan diambil darahnya. Ibu petugas sempat kesulitan sebentar mencari tempat untuk menusukkan jarumnya, tapi teratasi. Beberapa menit berlalu, akhirnya kantong darah sudah penuh. Petugas PMI mengambil juga sampel darah untuk ditaruh di dua atau tiga botol kecil. Dan, selesai! Tidak lupa saya mengambil makanan dan kartu donor darah yang sudah diisi. Syukurlah hari ini lancar. Ini adalah donor darah ketiga, tapi kedua kali yang tercatat di kartu, karena pertama kali saya mendonorkan darah, karena kebutuhan mendesak, belum punya kartu.

Jadi teringat pertama kali mendonorkan darah. Ceritanya cukup panjang. Secara singkat, ibu dari seorang teman yang baru saya kenal beberapa hari masuk rumah sakit. Sebenarnya ibu ini memang sudah sakit dari lama dan butuh bantuan darah. Saat itu rumah sakit kehabisan golongan darah untuk ibu ini. Anak - anaknya yang golongan darah sama sudah diambil darahnya tapi masih kurang. Ternyata golongan darahnya sama dengan punya saya. Awalnya sempat takut untuk donor, takut dengan jarum suntiknya, takut ngeliat darah yang banyak, dan masih banyak lagi. Tapi ini untuk membantu orang lain, semua rasa takut disingkirkan. Untungnya saya boleh mendonor dan semuanya lancar. Ibu itu masih bisa hidup untuk melihat anaknya menikah beberapa bulan kemudian.

Semenjak itu timbul keinginan untuk donor lebih rutin. Tapi kadang waktu donor dari tempat - tempat yang saya tahu, tidak pas. Kadang saya sedang datang bulan, atau sedang tidak fit. Jadilah donor kedua, kira - kira tiga tahun setelahnya setelah mencari tahu syarat untuk mendonor dengan baik. 

Hari ini donor ketiga, 2 tahun setelahnya. Tadi ada beberapa orang yang sudah mendonor sampai 15 kali atau lebih, keren sekali. Semoga saya bisa seperti mereka. :)

Thursday, December 31, 2015

Bukan hari terakhir

Bekasi, 31 Desember 2015

Tadi jogging pagi, lumayan lah satu jam, walau banyak jalan kakinya. Mesti lebih rutin lagi. Tadi ada percakapan penjual dan pembeli ketika saya sedang berjalan.


Pembeli: "Bang, kok harga rotinya jadi mahal?"

Penjual: "Iya, mau tahun baruan."

Apa hubungannya harga mahal dengan tahun baru? Kalau mahal karena bahan baku ga ada, oke. Mahal karena yang jual sedikit oke, lah ini karena tahun baru. Bisa jadi besok, kalau harganya tetap mahal, begini percakapannya.


Pembeli: "Kok harganya naik Bang?"

Penjual: "Iya, abis tahun baruan."

Tahun baru jadi alasan, haha. Kesannya setelah tahun baru, abangnya ga jualan lagi. Ini bukan hari terakhir, tapi ini hari Kamis dan besok hari Jumat. Kata temen, ganti hari doang kok.


Jadi terpikir, bagaimana seharusnya menyambut tahun baru? Beberapa tahun lalu, saya menyambut tahun baru dengan resolusi-resolusi sepereti kebanyakan orang. Tapi nyatanya di tanggal 1 Januari nya, kelakuan sama aja, padahal masih tanggal 1 Januari. 


Semoga perubahan perilaku tidak hanya dimulai di awal tahun, tapi bisa kapan saja, kalau bisa secepatnya, tidak nunggu akhir tahun berlalu.

Saturday, November 28, 2015

Kilas Balik 90an

Bekasi, 28 November 2015

Seringnya percakapan dengan teman mengingat masa lalu. Jadi sekarang mulai dituliskan saja. Kali ini saya beri nama kilas balik 90an, karena bahasannya mengenai masa SD dan SMP, jadi sekitar tahun 1991 sampai 2000. 

Telepon. Semua orang tahu penemu telepon Bapak Graham Bell, walau sempat baca ternyata beliau bukanlah yang pertama menemukan telepon. Di masa kini, yang kekinian, orang sudah amat sangat familiar dengan telepon genggam atau sering dibilang hp. Saat ini pun hp ada berbagai macam merek dan ukuran. Dari yang kecil (tapi sudah jarang dipakai) hingga sebesar tablet (bukan obat).

Saya dan seorang teman teringat saat jaman SD dan SMP, bahkan sampai pertengahan SMA, kami hanya punya telepon rumah dan begitu diidolakannya telepon umum. Keluarga saya sendiri punya telepon juga karena orang tua mempunyai warung dan menelepon saudara di kampung. 

Kring... Kring... 
Begitu telepon rumah berbunyi, saya selalu ingin mengangkat karena itu adalah hal menyenangkan. :) 
Karena telepon digunakan untuk hal yang penting menurut masing - masing anggota keluarga. Misalnya teman menelepon untuk menanyakan pr, atau mengabarkan tidak masuk sekolah karena sakit. Jadi percakapannya tidak panjang, karena biaya telepon masih lumayan mahal jaman itu.


Satu lagi, telepon umum. Telepon yang menggunakan koin agar bisa dimanfaatkan ini, jadi alat penghubung bagi saya. Kadang kami menelepon teman lain atau mengerjai teman. Tidak baik memang, hahaha. Koin yang digunakan ada 50 dan 100 kalau ga salah. Ketika telepon tidak diangkat, biasanya orang lekas - lekas menekan gagang yang ada di sana, agar uangnya bisa keluar lagi. :)

Sekian dulu, telepon di jaman dulu.

Wednesday, November 25, 2015

Hari Guru Nasional

Bekasi, 25 November 2015
Hari ini adalah hari guru. Teringat guru - guru dari TK, SD, SMP, dan SMA. Beberapa bisa saya ingat dengan jelas, lainnya hanya ingat rupa dan nama. Jadi ingin mengingat mereka.
Bu Sri, guru kelas 1 dan 2 SD. Terakhir ketemu bulan lalu dan beliau masih ingat, walau saya sudah pergi ke Bandung, Lampung dan jarang bertemu dengannya. Ada satu hal yang selalu diceritakan ibu saya setelah bertemu dengan Bu Sri. Saya masih di kelas 1 sepertinya, lalu melihat rapor di rumah dan di bagian kehadiran dituliskan saya ijin 1 hari. Menurut ibu saya, saat itu saya protes dengan bilang bahwa saya selalu datang ke sekolah dan tidak pernah ijin. Saya membayangkan ketika kecil dengan seriusnya berkata seperti itu :) dan juga membayangkan ibu yang mungkin tersenyum mendengar perkataan anaknya. Masih menurut cerita ibu, saya pergi ke sekolah dengan ibu, bertemu dengan Bu Sri dan ibu menceritakan semuanya. Bu Sri juga tersenyum. Dia tidak marah bahkan meminta maaf kepadaku. "Maaf ya Ndok.."

Bu Tiwi, guru SMP. Darinya saya belajar untuk berhati - hati menggunakan kata 'mungkin' dan 'sesuatu'. Padahal Syahrini jadi populer karena kata itu. 

Pak Didi, guru SMA, guru matematika. Banyak orang bilang guru pelajaran eksak sebagai guru killer. Tapi tidak dengan beliau. Sampai sekarang yang saya ingat adalah bagian tertawa dan canda yang sering kali dia berikan. Hanya sekedar penjual es atau rujak bebeg yang lewat di depan sekolah bisa jadi lucu karena beliau. 

Ya itulah, tiga dari sekian banyak guru yang pernah mengisi hidup saya, bahkan sampai sekarang. Bagaimanakah saya diingat oleh mereka dan murid - murid?

Selamat Hari Guru Nasional!

Tuesday, October 20, 2015

50 tahun

Bekasi.

Hari Jumat, tanggal 16 Oktober lalu bertepatan dengan hari Pangan Sedunia. Tapi bukan hanya itu, pada tanggal yang sama, seorang bapak dan ibu merayakan ulang tahun pernikahannya yang ke 50. Saat itu memang giliran doa bersama di rumah mereka. Tapi mereka baru memberitahu ketika doa bersama. Sederhana, mereka hanya meminta kami untuk ikut berdoa bersama mereka. Ucapan syukur terlantun dalam doa.

Kalau ada doa bersama, seringkali aku pulang bersama mereka. Kadang bercanda, bapak itu juga masih aktif berjalan, ingatannya juga masih kuat. Sedangkan ibu itu juga senang berbicara walau terkadang kakinya sakit. Mereka jadi panutan sekali.

Semoga bisa hidup dengan kesederhanaan seperti mereka.