Bekasi,
tanggal 15 Juni 2012 secara resmi aku meninggalkan GPM dan pekerjaan
sebagai guru di sana. Ketika beberapa orang tahu tentang pengunduran
diriku, 99% dari mereka akan bertanya seperti ini: "kok pindah? Dapet
kerjaan baru?" jika aku jawab tidak, ini lanjutannya: "mau nikah ya?".
Tampaknya kalau aku sudah menikah maka pertanyaannya mungkin seperti
ini:"ikut suami?". Apakah hal itu sudah umum di masyarakat? Tidak tahu
juga karena ini pertama kalinya aku berhenti kerja dan diberi
pertanyaan-pertanyaan itu. Tapi aku menjawabnya dengan bercanda saja.
Sekarang saatnya memulai lagi. Tantangan akan selalu ada, semoga semua
bisa dihadapi.
--
SMA Sugar Group
Mathematics Division
Gulaku
Jalan Cut Meutia no 58
Bandar Lampung 35000
Monday, June 18, 2012
Wednesday, June 06, 2012
Ucapan
Lampung,
Hari ini satu hal lagi
dipelajari, tentang ucapan. Seringkali saya mengkritik orang lain karena ucapan
mereka terutama ucapan mereka kepada saya. Tetapi kali ini saya melakukan hal
yang saya kritik sendiri. Merasa malu atas hal ini.
Tadi sore saya bercanda dengan
teman-teman guru. Seperti biasa kadang kami saling mengejek atau menertawakan
tingkah laku kami yang seringkali aneh bin ajaib. Saya pun melakukan demikian.
Biasanya saya berani melakukan itu jika memang sudah merasa dekat dengan
orang-orang itu dan tahu mereka bisa diajak bercanda.
Tanpa saya sadari, ternyata ada
ucapan saya yang dimaksudkan bercanda malah menyinggung perasaan salah satu
teman. Aku sadar ketika dia memberi tahu melalui pesan singkat di telepon. Saya
meminta maaf dan tidak akan mengulanginya lagi. Saya tahu teman ini bukan orang
yang sangat sensitif melainkan bisa diajak santai tapi tetap saja merasa
bersalah padanya. Ini menjadi pelajaran. Sedekat apa pun dengan seseorang tetap
harus memperhatikan perasaan mereka. Semoga mulai sekarang dan hari-hari
selanjutnya saya lebih peka pada mereka. Bercanda dengan cerdas. :D
Friday, March 16, 2012
Keringat
Lampung,
Setiap orang pasti pernah berkeringat baik disengaja (karena beraktivitas atau berolahraga) dan tidak disengaja (karena panasnya matahari atau berada di dekat sumber panas lain), begitu pula aku. Tapi seringkali keringatku bukan hanya karena hal-hal yang aku sebutkan tadi, melainkan keluar begitu saja dari tubuku. Keringat itu ada di tangan dan kakiku (jika memakai sendal). Sejak aku menyadarinya, aku sering bertanya-tanya pada diriku sendiri dan kepada beberapa teman akrabku, kenapa bisa terjadi seperti itu. Ada yang bilang itu karena jantungku lemah. Aku pun sempat mengiyakannya. Tapi rasa-rasanya jantungku tidak begitu lemah, karena masih bisa mengontrolnya ketika ada sesuatu yang membuatku kaget. Sampai sekarang aku belum mencari lagi penyebabnya.
Namun yang ingin kubahas bukanlah penyebabnya melainkan sikap orang-orang di sekitarku ketika melihat hanya tanganku yang berkeringat tidak seluruh tubuhku. Banyak dari mereka bertanya dan melihat dengan aneh, terkesan itu adalah hal yang tidak baik. Mungkin karena banyak orang tidak ingin berkeringat. Produk untuk mencegah keringat pun ramai diiklankan. Aku pun merasa kurang percaya diri. Kadangkala ketika tanganku berkeringat dan ada orang yang mengajak salaman, aku akan bilang dulu ke mereka bahwa tanganku basah. Kalau mereka berbesar hati dan tetap mau salaman, aku pun menyalami mereka. Selain orang yang menganggap aneh, ternyata ada sedikit orang yang menganggap itu unik. Kadang malah mereka menanyakan tanganku sedang berkeringat atau tidak. Dan biasanya mereka yang menganggap itu unik adalah sahabat-sahabat terdekatku. Bahagianya memiliki sahabat yang mau menerima apa adanya.
Cerita tentang keringat..
Setiap orang pasti pernah berkeringat baik disengaja (karena beraktivitas atau berolahraga) dan tidak disengaja (karena panasnya matahari atau berada di dekat sumber panas lain), begitu pula aku. Tapi seringkali keringatku bukan hanya karena hal-hal yang aku sebutkan tadi, melainkan keluar begitu saja dari tubuku. Keringat itu ada di tangan dan kakiku (jika memakai sendal). Sejak aku menyadarinya, aku sering bertanya-tanya pada diriku sendiri dan kepada beberapa teman akrabku, kenapa bisa terjadi seperti itu. Ada yang bilang itu karena jantungku lemah. Aku pun sempat mengiyakannya. Tapi rasa-rasanya jantungku tidak begitu lemah, karena masih bisa mengontrolnya ketika ada sesuatu yang membuatku kaget. Sampai sekarang aku belum mencari lagi penyebabnya.
Namun yang ingin kubahas bukanlah penyebabnya melainkan sikap orang-orang di sekitarku ketika melihat hanya tanganku yang berkeringat tidak seluruh tubuhku. Banyak dari mereka bertanya dan melihat dengan aneh, terkesan itu adalah hal yang tidak baik. Mungkin karena banyak orang tidak ingin berkeringat. Produk untuk mencegah keringat pun ramai diiklankan. Aku pun merasa kurang percaya diri. Kadangkala ketika tanganku berkeringat dan ada orang yang mengajak salaman, aku akan bilang dulu ke mereka bahwa tanganku basah. Kalau mereka berbesar hati dan tetap mau salaman, aku pun menyalami mereka. Selain orang yang menganggap aneh, ternyata ada sedikit orang yang menganggap itu unik. Kadang malah mereka menanyakan tanganku sedang berkeringat atau tidak. Dan biasanya mereka yang menganggap itu unik adalah sahabat-sahabat terdekatku. Bahagianya memiliki sahabat yang mau menerima apa adanya.
Cerita tentang keringat..
Thursday, March 01, 2012
Layangan
Lampung,
Satu Maret tahun dua ribu dua belas. Sudah masuk di bulan Maret, waktu berlalu, akhir-akhir ini sepertinya berlalu begitu cepat. Libur 5 hari aku habiskan di rumah dan sekitarnya. Hari Selasa lalu, tepatnya di sore hari, ada kejadian yang lucu, menyenangkan, dan menggembirakan. Aku dan abangku berada di atas rumah. Kami melihat ada layangan orang tersangkut di atap rumah dan benangnya menjuntai panjang sampai ke lantai. Abangku pun berinisiatif untuk mengambil benang tersebut hingga ia mendapatkan layangan tersebut. Dia bilang padaku untuk menggulung benang dan mengulurnya jika diperlukan karena ia mau mencoba menerbangkan layangan tersebut. Setelah kira-kira 5 menit, akhirnya layangan itu dapat terbang dengan posisi abangku yang berdiri di atas tempat yang menurutku cukup berbahaya. Senangnya melihat layangan itu terbang, kami pun tertawa tanpa beban. Abangku ingin menerbangkannya lebih tinggi lagi tapi benang yang ada sudah habis. Ternyata di dekat kami ada benang dari layangan lain yang menyangkut di kabel listrik. Aku pun menyambung benang tersebut sehingga layangan itu terbang lebih tinggi. Setelah puas, abangku bilang ingin melepas layangan tersebut. Tapi sebelum dia melepaskannya aku memintanya untuk memberikan benangnya padaku agar aku juga bisa menerbangkannya. Sebenarnya aku belum puas memainkannya tapi akhirnya aku melepaskan layangan tersebut. Beberapa orang yang melihat kami dari bawah (jalanan) bisa jadi terheran-heran melihat dua orang dewasa begitu seru menerbangkan layangan. Sungguh kejadian yang menyenangkan. :)
Berbicara tentang layangan, aku teringat masa kecilku. Mungkin bahasa bakunya layang-layang, tapi dari kecil aku terbiasa menyebutkannya layangan. Ketika aku masih anak-anak dan masih sering bermain tanpa harus memikirkan apa pun, aku sering bermain layangan. Kadang dengan abangku, kadang dengan teman-temanku, yang juga adalah perempuan. Untuk menaikkan sebuah layangan ternyata tidak mudah, seringkali layangan terjatuh sebelum terbang. Bisa jadi karena bentuk layangan yang tidak seimbang, kertas layangan ada yang sobek, angin yang tidak mendukung, atau kemampuan kami yang kurang. :D
Akan tetapi menaikkan layangan selalu menyenangkan.. Lain kali ada kesempatan dan lapangan, mari bermain layangan lagi!
Satu Maret tahun dua ribu dua belas. Sudah masuk di bulan Maret, waktu berlalu, akhir-akhir ini sepertinya berlalu begitu cepat. Libur 5 hari aku habiskan di rumah dan sekitarnya. Hari Selasa lalu, tepatnya di sore hari, ada kejadian yang lucu, menyenangkan, dan menggembirakan. Aku dan abangku berada di atas rumah. Kami melihat ada layangan orang tersangkut di atap rumah dan benangnya menjuntai panjang sampai ke lantai. Abangku pun berinisiatif untuk mengambil benang tersebut hingga ia mendapatkan layangan tersebut. Dia bilang padaku untuk menggulung benang dan mengulurnya jika diperlukan karena ia mau mencoba menerbangkan layangan tersebut. Setelah kira-kira 5 menit, akhirnya layangan itu dapat terbang dengan posisi abangku yang berdiri di atas tempat yang menurutku cukup berbahaya. Senangnya melihat layangan itu terbang, kami pun tertawa tanpa beban. Abangku ingin menerbangkannya lebih tinggi lagi tapi benang yang ada sudah habis. Ternyata di dekat kami ada benang dari layangan lain yang menyangkut di kabel listrik. Aku pun menyambung benang tersebut sehingga layangan itu terbang lebih tinggi. Setelah puas, abangku bilang ingin melepas layangan tersebut. Tapi sebelum dia melepaskannya aku memintanya untuk memberikan benangnya padaku agar aku juga bisa menerbangkannya. Sebenarnya aku belum puas memainkannya tapi akhirnya aku melepaskan layangan tersebut. Beberapa orang yang melihat kami dari bawah (jalanan) bisa jadi terheran-heran melihat dua orang dewasa begitu seru menerbangkan layangan. Sungguh kejadian yang menyenangkan. :)
Berbicara tentang layangan, aku teringat masa kecilku. Mungkin bahasa bakunya layang-layang, tapi dari kecil aku terbiasa menyebutkannya layangan. Ketika aku masih anak-anak dan masih sering bermain tanpa harus memikirkan apa pun, aku sering bermain layangan. Kadang dengan abangku, kadang dengan teman-temanku, yang juga adalah perempuan. Untuk menaikkan sebuah layangan ternyata tidak mudah, seringkali layangan terjatuh sebelum terbang. Bisa jadi karena bentuk layangan yang tidak seimbang, kertas layangan ada yang sobek, angin yang tidak mendukung, atau kemampuan kami yang kurang. :D
Akan tetapi menaikkan layangan selalu menyenangkan.. Lain kali ada kesempatan dan lapangan, mari bermain layangan lagi!
Tuesday, February 21, 2012
Akhir Minggu
Lampung,
Biasanya hampir setiap akhir minggu (weekend) aku melakukan hal buruk. Tapi hari Sabtu dan Minggu kemarin aku tidak melakukan hal buruk itu. Berhasil! Senangnya.. Semoga hal itu berhasil untuk minggu-minggu seterusnya. ^_^
Hari Minggu pagi, bermain badminton, menyenangkan walau bola ke mana-mana dan net yang dipakai adalah net untuk permainan bola voli, yang notabene, tinggi sekali. Sore hari pun berolahraga kembali. Kali ini basket. Dimulai dari jam 4 sore ketika lapangan masih sepi, hanya aku dan Riris. Setelah sekian lama vakum dari dunia perbasketan, pendekar-pendekar basket kembali (agak lebay).. Sekitar satu jam bermain basket, akhirnya kami pergi dari lapangan basket karena lapangan semakin dipenuhi orang-orang yang mau bermain basket.
Ternyata (menurut Riris) basket belum membuat berkeringat, jadi kami pun bermain badminton, satu lawan satu. Olah raga ini memang lebih menguras tenaga dan sedikit pikiran tapi menyenangkan, bisa meluapkan energi-energi jelek. Hampir satu jam lebih kami bermain badminton, datanglah Dian melihat. Riris pun bermain dengan Dian, kemudian aku dan Riris melawan Dian. Menurutku ini seimbang, hehe.. Tidak terasa kami selesai bermain sekitar jam 6 lewat, artinya sudah satu jam lebih atau sudah dua jam lebih kami berolah raga. Benar-benar menyenangkan, salah satu hal yang kusuka.
Selesai berolah raga, aku kembali ke kamar dan melihat telepon genggamku, ada beberapa sms dan panggilan tak terjawab. Salah satunya dari no bapak. Ternyata di sms tersebut bapak merasa bahagia. Apa hal yang membuatnya bahagia? Hal sederhana, melihat salah satu anaknya pergi ke Gereja. Bagi orang lain, mungkin ini berlebihan, tetapi tidak bagi bapak dan mamak. Setelah sekian lama, abangku pergi ke Gereja lagi dan itu dengan inisiatifnya sendiri. Aku pun turut senang. Dengan begitu banyak hal terjadi pada keluarga kami, rasanya wajar sekali bapak bahagia. Aku pun menelepon orang tuaku dan terdengar nada suara bahagia dari bapak, begitu pula mamak. Selain berita tersebut, beberapa hari sebelumnya abangku juga memberi tahuku bahwa ia sedang training kerja. Semoga ini adalah awal yang baik. :)
Biasanya hampir setiap akhir minggu (weekend) aku melakukan hal buruk. Tapi hari Sabtu dan Minggu kemarin aku tidak melakukan hal buruk itu. Berhasil! Senangnya.. Semoga hal itu berhasil untuk minggu-minggu seterusnya. ^_^
Hari Minggu pagi, bermain badminton, menyenangkan walau bola ke mana-mana dan net yang dipakai adalah net untuk permainan bola voli, yang notabene, tinggi sekali. Sore hari pun berolahraga kembali. Kali ini basket. Dimulai dari jam 4 sore ketika lapangan masih sepi, hanya aku dan Riris. Setelah sekian lama vakum dari dunia perbasketan, pendekar-pendekar basket kembali (agak lebay).. Sekitar satu jam bermain basket, akhirnya kami pergi dari lapangan basket karena lapangan semakin dipenuhi orang-orang yang mau bermain basket.
Ternyata (menurut Riris) basket belum membuat berkeringat, jadi kami pun bermain badminton, satu lawan satu. Olah raga ini memang lebih menguras tenaga dan sedikit pikiran tapi menyenangkan, bisa meluapkan energi-energi jelek. Hampir satu jam lebih kami bermain badminton, datanglah Dian melihat. Riris pun bermain dengan Dian, kemudian aku dan Riris melawan Dian. Menurutku ini seimbang, hehe.. Tidak terasa kami selesai bermain sekitar jam 6 lewat, artinya sudah satu jam lebih atau sudah dua jam lebih kami berolah raga. Benar-benar menyenangkan, salah satu hal yang kusuka.
Selesai berolah raga, aku kembali ke kamar dan melihat telepon genggamku, ada beberapa sms dan panggilan tak terjawab. Salah satunya dari no bapak. Ternyata di sms tersebut bapak merasa bahagia. Apa hal yang membuatnya bahagia? Hal sederhana, melihat salah satu anaknya pergi ke Gereja. Bagi orang lain, mungkin ini berlebihan, tetapi tidak bagi bapak dan mamak. Setelah sekian lama, abangku pergi ke Gereja lagi dan itu dengan inisiatifnya sendiri. Aku pun turut senang. Dengan begitu banyak hal terjadi pada keluarga kami, rasanya wajar sekali bapak bahagia. Aku pun menelepon orang tuaku dan terdengar nada suara bahagia dari bapak, begitu pula mamak. Selain berita tersebut, beberapa hari sebelumnya abangku juga memberi tahuku bahwa ia sedang training kerja. Semoga ini adalah awal yang baik. :)
Thursday, February 16, 2012
Input Output
"A journey of thousand miles begins with a single step" -Confusius
Lampung,
Kadang berpikir sangat keras, apa yang salah dengan diriku sehinga murid-murid belum mengerti juga. Apa yang salah dari pengajaranku? Aku malah menyalahkan mereka. Beberapa kali aku sempat berpendapat, bahwa yang salah adalah mereka atau orang-orang yang mengajarkan mereka sebelumnya sehingga input murid-murid yang aku dapat bukan yang bagus. Namun setelah aku renungkan lebih dalam, justru itulah tugas guru sebenarnya. Apa pun input yang didapat, dengan kemampuan guru, mereka diharapkan keluar dengan baik. Aku tersadarkan saat itu dan mulai menemukan kembali tujuan dari pekerjaanku. Perjalanan mereka masih panjang dan aku ada di bagian hidup mereka, semoga aku menjadi bagian yang baik bagi mereka. Aku mau berbuat lebih baik lagi!
Friday, February 10, 2012
Jakarta - Lampung
Lampung,
Aku teringat kejadian sekitar dua minggu lalu. Saat itu hari Senin, tanggal dua puluh tiga Januari 2012, perayaan Imlek. Aku dan tiga orang kawan guru hendak kembali ke Lampung untuk bekerja. Kami berkumpul di mesjid Merak jam tiga sore. Akan tetapi setelah menunggu, kami baru bisa beli tiket ferry sekitar pukul empat sore. Ternyata kami harus menunggu lagi di dermaga 3, karena ferry baru saja membongkar muatan dan para penumpang baru hendak turun. Kami pun naik ferry, tapi menunggu lagi sebelum kapal benar-benar berangkat.
Ketika aku di Merak, angin sudah bertiup kencang sekali, membawa debu dan membuat pohon yang besar pun bergoyang. Sempat kuatir dengan keadaan angin. Ketika kapal berada di tengah lautan, kapal bergoyang cukup kencang. Beberapa orang pun merasa mual. Tak lama ada pengumuman bahwa keadaan laut kurang baik, sehingga penyebrangan dari Bakau pun ditutup. Kami pun berharap bisa tiba di Bakauheni dengan selamat. Syukurlah kami pun tiba dengan selamat sekitar pukul tujuh malam. Di Bakauheni, banyak penumpang terlantar karena penyebrangan dari Bakau ditutup. Ternyata tak lama setelah penyebrangan dari Bakau ditutup, penyebrangan dari Merak pun ditutup. Nampaknya cuaca memang tidak begitu baik.
Di Bakau kami pun menunggu mobil yang akan menjemput kami. Lagi-lagi kami menunggu, karena mobil tersebut terjebak macet. Kami menunggu sambil mengobrol dan memantau keadaan mobil tersebut. Lama tak kunjung datang, kami pun berinisiatif untuk naik ojek ke tempat mobil kami terjebak macet. Supir mobil tidak menjelaskan dengan baik keadaan mobil. Jadilah kami menunggu di pinggir jalan. Rasa lapar dan badan yang kurang sehat, membuat aku duduk dan makan nasi padang yang aku beli di Bakau. Syukurlah setelah itu badanku agak sehat. Sudah jam 9 lewat, tapi belum ada kepastian. Akhirnya kami bertemu dengan supir tersebut. Ternyata mobil kami ada di tengah mobil-mobil lain dan tidak bisa bergerak dan tidak tahu kapan bisa bergerak. Kami berencana untuk naik travel lain dan mengganti uang bensin-supir tersebut. Namun, supir dan bosnya kurang sepakat dengan kami atau dengan jumlah uang yang kami tawarkan. Sempat terjadi perdebatan, tapi supir tersebut merelakan kami pergi dengan catatan belum ada kesepakatan mengenai uang pengganti.
Salah satu dari kami mencari travel yang mau mengantarkan kami ke perkebunan tebu, tempat kami bekerja. Setelah bernegoisiasi alot, kami pun mendapatkan travel tersebut. Kami pun berangkat ke Tanjung Karang untuk menjemput satu orang guru lagi. Belum jauh dari Bakau, di tengah perjalanan ada beberapa warga yang sedang berselisih, seperti sedang tawuran. Untungnya mereka tidak mengganggu perjalanan mobil-mobil yang melalui jalan tersebut.
Lima jam perjalanan, kami pun tiba di perkebunan tebu sekitar pukul 2 pagi. Masih ada waktu tidur 3 jam, aku pun langsung beberes sebentar dan tidur. Perjalanan dengan berbagai peristiwa di dalamnya.
Aku teringat kejadian sekitar dua minggu lalu. Saat itu hari Senin, tanggal dua puluh tiga Januari 2012, perayaan Imlek. Aku dan tiga orang kawan guru hendak kembali ke Lampung untuk bekerja. Kami berkumpul di mesjid Merak jam tiga sore. Akan tetapi setelah menunggu, kami baru bisa beli tiket ferry sekitar pukul empat sore. Ternyata kami harus menunggu lagi di dermaga 3, karena ferry baru saja membongkar muatan dan para penumpang baru hendak turun. Kami pun naik ferry, tapi menunggu lagi sebelum kapal benar-benar berangkat.
Ketika aku di Merak, angin sudah bertiup kencang sekali, membawa debu dan membuat pohon yang besar pun bergoyang. Sempat kuatir dengan keadaan angin. Ketika kapal berada di tengah lautan, kapal bergoyang cukup kencang. Beberapa orang pun merasa mual. Tak lama ada pengumuman bahwa keadaan laut kurang baik, sehingga penyebrangan dari Bakau pun ditutup. Kami pun berharap bisa tiba di Bakauheni dengan selamat. Syukurlah kami pun tiba dengan selamat sekitar pukul tujuh malam. Di Bakauheni, banyak penumpang terlantar karena penyebrangan dari Bakau ditutup. Ternyata tak lama setelah penyebrangan dari Bakau ditutup, penyebrangan dari Merak pun ditutup. Nampaknya cuaca memang tidak begitu baik.
Di Bakau kami pun menunggu mobil yang akan menjemput kami. Lagi-lagi kami menunggu, karena mobil tersebut terjebak macet. Kami menunggu sambil mengobrol dan memantau keadaan mobil tersebut. Lama tak kunjung datang, kami pun berinisiatif untuk naik ojek ke tempat mobil kami terjebak macet. Supir mobil tidak menjelaskan dengan baik keadaan mobil. Jadilah kami menunggu di pinggir jalan. Rasa lapar dan badan yang kurang sehat, membuat aku duduk dan makan nasi padang yang aku beli di Bakau. Syukurlah setelah itu badanku agak sehat. Sudah jam 9 lewat, tapi belum ada kepastian. Akhirnya kami bertemu dengan supir tersebut. Ternyata mobil kami ada di tengah mobil-mobil lain dan tidak bisa bergerak dan tidak tahu kapan bisa bergerak. Kami berencana untuk naik travel lain dan mengganti uang bensin-supir tersebut. Namun, supir dan bosnya kurang sepakat dengan kami atau dengan jumlah uang yang kami tawarkan. Sempat terjadi perdebatan, tapi supir tersebut merelakan kami pergi dengan catatan belum ada kesepakatan mengenai uang pengganti.
Salah satu dari kami mencari travel yang mau mengantarkan kami ke perkebunan tebu, tempat kami bekerja. Setelah bernegoisiasi alot, kami pun mendapatkan travel tersebut. Kami pun berangkat ke Tanjung Karang untuk menjemput satu orang guru lagi. Belum jauh dari Bakau, di tengah perjalanan ada beberapa warga yang sedang berselisih, seperti sedang tawuran. Untungnya mereka tidak mengganggu perjalanan mobil-mobil yang melalui jalan tersebut.
Lima jam perjalanan, kami pun tiba di perkebunan tebu sekitar pukul 2 pagi. Masih ada waktu tidur 3 jam, aku pun langsung beberes sebentar dan tidur. Perjalanan dengan berbagai peristiwa di dalamnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)