Saturday, August 13, 2011

Pagi

Lampung,

Tampaknya ini tulisan pertama yang ditulis di pagi hari sebelum jam 5 pagi. Ini lagi bulan puasa, tapi aku sudah beraktivitas bukan karena ingin sahur. Mendengarkan lagu di pagi hari, minum segelas susu cokelat, sambil mencoba menyelesaikan tugas.

Malam tadi sempet belajar bahasa Inggris, dah lama juga ga belajar. Fighting! salah satu kata yang biasa diucapkan di drama korea, yang ternyata membangkitkan semangatku juga. Semoga pagi ini menjadi awal yang baik di hari ini.

Ambil semua kebahagiaan hari ini.

Thursday, August 11, 2011

Motivasiku

Lampung,

Kesal, marah, sedih datang menghampiri
lemahnya diriku, tak bisa membendung itu semua
hingga akhirnya diriku terbuai dengan tangis
tangis tiada henti selama beberapa jam
di malam hari
saat orang sudah membaringkan tubuh
untuk melepas lelah hari itu

aku tahu bahwa tak seharusnya aku berpikir dan berbuat sedangkal itu
namun ku ingin berteriak sekeras mungkin
dan membenamkan mukaku
hingga aku lelah dan terlelap

belum berhenti juga tangis itu, tangis yang tiada guna
sampai ku ingat mereka
aku akan bertemu mereka esok hari
para pejuang sekolah

tidak, aku tidak mau bertemu mereka dengan mata sembap
aku tidak mau bertemu mereka dengan muka lesu
aku tidak mau mereka melihatku tak bersemangat

saat itu kuputuskan untuk berhenti menangis
ku ingat wajah-wajah mereka
senyum, tawa bersama di setiap keadaan
ya, aku membasuh mukaku dan mulai untuk tidur

aku pun bangun,
rasa sedih itu masih ada,
tapi aku punya tekad untuk bersemangat
aku mencoba tersenyum dan mengingat lagi mereka

wah, mereka datang..
senyum dan tawa menghiasi wajah mereka
sedihku hilang

aku menyatukan diri dengan emosi mereka
menyapa dan bercanda
sungguh, mereka adalah motivasiku

terima kasih, murid-muridku..
terima kasih telah menjadi motivasiku..

Tuesday, August 02, 2011

Antusias

Lampung,

Baru saja selesai mengajar hari ini. Kelas terakhir tadi begitu mengagumkan. Aku tidak menyangka di bulan puasa, jam-jam ngantuk, mereka begitu bersemangat. Aku pun jadi bersemangat dan sedikit merasa bersalah karena kurang mempersiapkan kelas dengan baik. Tapi ini jadi motivasi agar aku berbuat lebih baik.
Terima kasih murid-muridku tersayang..

Wednesday, May 04, 2011

Di atas harapan

Lampung..

"Sekian perkuliahan kita hari ini. Terima kasih." Itulah kalimat yang aku ucapkan untuk mengakhiri kelas matematika di SCI B di pagi hari tadi. Aku mengucapkannya dengan penuh kesadaran, betapa aku kagum dan terkesima dengan pola pikir dan analisa mereka, sehingga mereka bisa kuanggap sebagai anak kuliah.

Pagi hari tadi aku mempunyai kelas bersama SCI B. Mereka siswa-siswi kelas XI. Topik kami hari ini adalah Turunan, lebih khusus lagi mengenai soal aplikasi turunan. Aku membagi mereka ke dalam 5 kelompok, dan tiap kelompok mendapat satu buah kasus. Mereka mencoba menjawab dan mendiskusikannya dengan teman grup mereka. Setelah selesai berdiskusi, tiap grup menampilkan hasil diskusi mereka. Sedangkan grup lain boleh bertanya atau mengklarifikasi.

Aku terkesima dengan pertanyaan-pertanyaan mereka, betapa pertanyaan itu menunjukkan kedalaman tingkat berpikir mereka, tingkat analisa yang dalam, melebihi harapanku saat itu, sehingga aku mengucapkan kalimat awal tulisan ini. Aku bersemangat sekali untuk menjawab pertanyaan mereka.

Memang tidak semua kelas dan tidak setiap saat mereka seperti itu, tapi ketika itu terjadi, aku sungguh bangga dan merasa beruntung bisa menjadi guru mereka.

Well done my students!

Wednesday, April 27, 2011

Arti Tut Wuri Handayani bagi guru matematika

Lampung,

Di kelas matematika, aku sedang membahas topik turunan bersama murid-muridku. Kali ini kami mendiskusikan tentang aturan-aturan dalam turunan. Untuk itu, aku membagi mereka dalam kelompok, kemudian tiap kelompok diberi tugas untuk mempelajari satu aturan turunan. Mulai dari bunyi aturan tersebut, pembuktiannya, contoh soal dan latihan untuk teman-teman mereka. Aku melakukan hal ini di dua kelas, B dan C (dari tiga kelas yang aku ajar). Dari dua kelas ini, aku melihat hasil yang signifikan di salah satu kelas, yaitu B.

Ketika mereka menjelaskan per kelompok, aku duduk di antara murid-murid, lebih banyak duduk di bagian belakang, memperhatikan mereka. Kalau mereka lancar memberikan penjelasan, maka aku hanya menjadi moderator. Jika ada yang kurang tepat, aku segera memperbaiki dan mereka melanjutkan kembali.

Hari ini presentasi kelompok terakhir dari kelas B. Sebenarnya mereka telah menjelaskan kemarin, tapi belum selesai karena jam pelajaran telah habis. Jadi mereka melanjutkan hari ini. Lalu mereka memberikan latihan bagi teman-teman mereka. Setelah itu ada dua teman mereka yang mengerjakan di papan tulis. Saat dibahas, ternyata ada perbedaan pendapat antara penjawab soal dan grup yang menjelaskan. Mereka pun mengungkapkan argumen mereka dan ternyata penjawab soal tersebut benar dan salah satu anggota grup meminta maaf.

Sebenarnya saat anggota grup menjelaskan argumennya, aku tahu itu salah dan ada keinginan besar untuk langsung memberi tahu. Untungnya aku bisa menahan diri dan aku bisa melihat betapa mereka sudah bisa menganalisis jawaban dan berpikir secara matematika. Senang dan bangga sekali melihat itu. Sayangnya aku lupa mengapresiasi mereka untuk hasil kerja yang luar biasa.

Dari pengalaman ini, aku bisa melihat bahwa mereka bisa belajar dengan cara seperti itu dan lebih efektif. Memang ada kelemahan, seperti butuh banyak waktu, karena tiap grup menjelaskan dan kapasitas tiap anak berbeda. Tapi mereka bisa melangkah maju bersama.

Bagiku, itulah arti dari Tut Wuri Handayani, di belakang memberi daya semangat dan dorongan. Aku memang duduk di belakang, tapi tidak hanya duduk, dari belakang aku memberikan semangat dan dukungan.

Tuesday, April 26, 2011

Cara Pandang

Lampung,

Hari Jumat hingga Minggu kemarin aku pulang ke rumah. Dari rumah, aku bawa oleh-oleh, yang mungkin bisa dibilang permenungan, hehe... Bapak bercerita tentang banyak hal, salah satunya tentang cara pandang. Dia bilang, kita harus berubah, lebih lagi mengubah cara pandang kita terhadap suatu hal, khususnya masalah, terlebih lagi masalah kehidupan. Katanya, kalau kita menghadapi masalah dalam hidup, janganlah kita menyalahkan orang lain, atau menjelek2an orang lain. Kita tidak usah berpikir bahwa masalah kita akibat dari perbuatan buruk orang lain, tidak bisa seperti itu lagi.

Sesaat ketika mendapat permenungan itu, aku memikirkan keluargaku. Setelah kembali ke Lampung, aku mengaitkan nasihat itu dengan keadaanku di sekolah, bagaimana aku menghadapi pimpinanku dan teman-teman sekerjaku. Betapa selama ini aku lebih banyak menyalahkan orang lain atas keadaanku, kenapa begini, kenapa begitu. Padahal aku bisa mengubah pikiran itu.

Hari ini aku mengaitkannya dengan murid-muridku. Kalau saja aku terus memandang lemah terhadap beberapa murid atau memandang kuat terhadap beberapa murid, bisa jadi aku menjadi pengajar yang tidak seharusnya mengajar. Mereka baru saja membuktikan kepadaku, betapa mereka sebenarnya bisa, bahwa mereka sebenarnya tidak lemah, hanya perlu suatu cara lain. Bahwa mereka sebenarnya tidak sekuat itu, mereka pernah 'jatuh' dan lemah.

Yup, aku perlu mengubah cara pandangku terhadap beberapa hal dan beberapa orang. Tentu saja untuk menjadikan hidup lebih lega dan mudah tersenyum..

Tuesday, April 05, 2011

Minyak Goreng

Lampung,

Tulisan ini bukan bercerita tentang resep ataupun panduan memasak tapi kisah di balik proses memasak. Minyak goreng, secara harafiah, minyak yang dipakai untuk menggoreng.

Alkisah di suatu malam selasa, tertanggal 4 April 2011, terjadi aktivitas memasak di satu tempat. Aku dan kedua temanku memasak martabak mini. Aku mendapat tugas untuk menggoreng. Dua kali proses penggorengan, semua berjalan lancar. Tiba-tiba, di proses yang ketiga, percikan minyak goreng dari wajan mengenai pipi kiri dan tangan kananku. Percikan itu, walau kecil, membuatku merasa panas. Seorang temanku melihat wajahku, dan hasilnya terkelupas kulitku itu. Langsung saja temanku mengambil obat dari kamarnya dan memberikan kepadaku. Sampai saat itu, masih panas yang kurasa dan perih. Setelah lukaku diobati, kami pun tetap menikmati martabak dan menonton tv. Setelah kami selesai melakukan aktivitas tersebut, kami pun kembali ke kamar masing - masing, barulah terasa perihnya. Sempat susah tidur karena panas.

Pagi-pagi aku ke tempat kerja, beberapa orang menanyakan perihal pipiku ini. Terlintas rasa malu juga di depan murid-muridku. Kadang ada yang melihat pipiku dan bertanya langsung kepadaku. Ada juga yang melihat tapi hanya bertanya-tanya dalam hatinya namun bisa kulihat dari matanya.

Hari ini perihnya tidak seperti kemarin, tapi tetap ada sedikit rasa panas. Aku jadi berpikir tentang tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri dan menderita. Pipiku saja yang hanya terkena sedikit percikan minyak goreng begitu perih, apalagi mereka yang disiram air panas atau minyak goreng panas, mengerikan sekali.