Lampung,
Setiap orang pasti pernah berkeringat baik disengaja (karena beraktivitas atau berolahraga) dan tidak disengaja (karena panasnya matahari atau berada di dekat sumber panas lain), begitu pula aku. Tapi seringkali keringatku bukan hanya karena hal-hal yang aku sebutkan tadi, melainkan keluar begitu saja dari tubuku. Keringat itu ada di tangan dan kakiku (jika memakai sendal). Sejak aku menyadarinya, aku sering bertanya-tanya pada diriku sendiri dan kepada beberapa teman akrabku, kenapa bisa terjadi seperti itu. Ada yang bilang itu karena jantungku lemah. Aku pun sempat mengiyakannya. Tapi rasa-rasanya jantungku tidak begitu lemah, karena masih bisa mengontrolnya ketika ada sesuatu yang membuatku kaget. Sampai sekarang aku belum mencari lagi penyebabnya.
Namun yang ingin kubahas bukanlah penyebabnya melainkan sikap orang-orang di sekitarku ketika melihat hanya tanganku yang berkeringat tidak seluruh tubuhku. Banyak dari mereka bertanya dan melihat dengan aneh, terkesan itu adalah hal yang tidak baik. Mungkin karena banyak orang tidak ingin berkeringat. Produk untuk mencegah keringat pun ramai diiklankan. Aku pun merasa kurang percaya diri. Kadangkala ketika tanganku berkeringat dan ada orang yang mengajak salaman, aku akan bilang dulu ke mereka bahwa tanganku basah. Kalau mereka berbesar hati dan tetap mau salaman, aku pun menyalami mereka. Selain orang yang menganggap aneh, ternyata ada sedikit orang yang menganggap itu unik. Kadang malah mereka menanyakan tanganku sedang berkeringat atau tidak. Dan biasanya mereka yang menganggap itu unik adalah sahabat-sahabat terdekatku. Bahagianya memiliki sahabat yang mau menerima apa adanya.
Cerita tentang keringat..
Friday, March 16, 2012
Thursday, March 01, 2012
Layangan
Lampung,
Satu Maret tahun dua ribu dua belas. Sudah masuk di bulan Maret, waktu berlalu, akhir-akhir ini sepertinya berlalu begitu cepat. Libur 5 hari aku habiskan di rumah dan sekitarnya. Hari Selasa lalu, tepatnya di sore hari, ada kejadian yang lucu, menyenangkan, dan menggembirakan. Aku dan abangku berada di atas rumah. Kami melihat ada layangan orang tersangkut di atap rumah dan benangnya menjuntai panjang sampai ke lantai. Abangku pun berinisiatif untuk mengambil benang tersebut hingga ia mendapatkan layangan tersebut. Dia bilang padaku untuk menggulung benang dan mengulurnya jika diperlukan karena ia mau mencoba menerbangkan layangan tersebut. Setelah kira-kira 5 menit, akhirnya layangan itu dapat terbang dengan posisi abangku yang berdiri di atas tempat yang menurutku cukup berbahaya. Senangnya melihat layangan itu terbang, kami pun tertawa tanpa beban. Abangku ingin menerbangkannya lebih tinggi lagi tapi benang yang ada sudah habis. Ternyata di dekat kami ada benang dari layangan lain yang menyangkut di kabel listrik. Aku pun menyambung benang tersebut sehingga layangan itu terbang lebih tinggi. Setelah puas, abangku bilang ingin melepas layangan tersebut. Tapi sebelum dia melepaskannya aku memintanya untuk memberikan benangnya padaku agar aku juga bisa menerbangkannya. Sebenarnya aku belum puas memainkannya tapi akhirnya aku melepaskan layangan tersebut. Beberapa orang yang melihat kami dari bawah (jalanan) bisa jadi terheran-heran melihat dua orang dewasa begitu seru menerbangkan layangan. Sungguh kejadian yang menyenangkan. :)
Berbicara tentang layangan, aku teringat masa kecilku. Mungkin bahasa bakunya layang-layang, tapi dari kecil aku terbiasa menyebutkannya layangan. Ketika aku masih anak-anak dan masih sering bermain tanpa harus memikirkan apa pun, aku sering bermain layangan. Kadang dengan abangku, kadang dengan teman-temanku, yang juga adalah perempuan. Untuk menaikkan sebuah layangan ternyata tidak mudah, seringkali layangan terjatuh sebelum terbang. Bisa jadi karena bentuk layangan yang tidak seimbang, kertas layangan ada yang sobek, angin yang tidak mendukung, atau kemampuan kami yang kurang. :D
Akan tetapi menaikkan layangan selalu menyenangkan.. Lain kali ada kesempatan dan lapangan, mari bermain layangan lagi!
Satu Maret tahun dua ribu dua belas. Sudah masuk di bulan Maret, waktu berlalu, akhir-akhir ini sepertinya berlalu begitu cepat. Libur 5 hari aku habiskan di rumah dan sekitarnya. Hari Selasa lalu, tepatnya di sore hari, ada kejadian yang lucu, menyenangkan, dan menggembirakan. Aku dan abangku berada di atas rumah. Kami melihat ada layangan orang tersangkut di atap rumah dan benangnya menjuntai panjang sampai ke lantai. Abangku pun berinisiatif untuk mengambil benang tersebut hingga ia mendapatkan layangan tersebut. Dia bilang padaku untuk menggulung benang dan mengulurnya jika diperlukan karena ia mau mencoba menerbangkan layangan tersebut. Setelah kira-kira 5 menit, akhirnya layangan itu dapat terbang dengan posisi abangku yang berdiri di atas tempat yang menurutku cukup berbahaya. Senangnya melihat layangan itu terbang, kami pun tertawa tanpa beban. Abangku ingin menerbangkannya lebih tinggi lagi tapi benang yang ada sudah habis. Ternyata di dekat kami ada benang dari layangan lain yang menyangkut di kabel listrik. Aku pun menyambung benang tersebut sehingga layangan itu terbang lebih tinggi. Setelah puas, abangku bilang ingin melepas layangan tersebut. Tapi sebelum dia melepaskannya aku memintanya untuk memberikan benangnya padaku agar aku juga bisa menerbangkannya. Sebenarnya aku belum puas memainkannya tapi akhirnya aku melepaskan layangan tersebut. Beberapa orang yang melihat kami dari bawah (jalanan) bisa jadi terheran-heran melihat dua orang dewasa begitu seru menerbangkan layangan. Sungguh kejadian yang menyenangkan. :)
Berbicara tentang layangan, aku teringat masa kecilku. Mungkin bahasa bakunya layang-layang, tapi dari kecil aku terbiasa menyebutkannya layangan. Ketika aku masih anak-anak dan masih sering bermain tanpa harus memikirkan apa pun, aku sering bermain layangan. Kadang dengan abangku, kadang dengan teman-temanku, yang juga adalah perempuan. Untuk menaikkan sebuah layangan ternyata tidak mudah, seringkali layangan terjatuh sebelum terbang. Bisa jadi karena bentuk layangan yang tidak seimbang, kertas layangan ada yang sobek, angin yang tidak mendukung, atau kemampuan kami yang kurang. :D
Akan tetapi menaikkan layangan selalu menyenangkan.. Lain kali ada kesempatan dan lapangan, mari bermain layangan lagi!
Tuesday, February 21, 2012
Akhir Minggu
Lampung,
Biasanya hampir setiap akhir minggu (weekend) aku melakukan hal buruk. Tapi hari Sabtu dan Minggu kemarin aku tidak melakukan hal buruk itu. Berhasil! Senangnya.. Semoga hal itu berhasil untuk minggu-minggu seterusnya. ^_^
Hari Minggu pagi, bermain badminton, menyenangkan walau bola ke mana-mana dan net yang dipakai adalah net untuk permainan bola voli, yang notabene, tinggi sekali. Sore hari pun berolahraga kembali. Kali ini basket. Dimulai dari jam 4 sore ketika lapangan masih sepi, hanya aku dan Riris. Setelah sekian lama vakum dari dunia perbasketan, pendekar-pendekar basket kembali (agak lebay).. Sekitar satu jam bermain basket, akhirnya kami pergi dari lapangan basket karena lapangan semakin dipenuhi orang-orang yang mau bermain basket.
Ternyata (menurut Riris) basket belum membuat berkeringat, jadi kami pun bermain badminton, satu lawan satu. Olah raga ini memang lebih menguras tenaga dan sedikit pikiran tapi menyenangkan, bisa meluapkan energi-energi jelek. Hampir satu jam lebih kami bermain badminton, datanglah Dian melihat. Riris pun bermain dengan Dian, kemudian aku dan Riris melawan Dian. Menurutku ini seimbang, hehe.. Tidak terasa kami selesai bermain sekitar jam 6 lewat, artinya sudah satu jam lebih atau sudah dua jam lebih kami berolah raga. Benar-benar menyenangkan, salah satu hal yang kusuka.
Selesai berolah raga, aku kembali ke kamar dan melihat telepon genggamku, ada beberapa sms dan panggilan tak terjawab. Salah satunya dari no bapak. Ternyata di sms tersebut bapak merasa bahagia. Apa hal yang membuatnya bahagia? Hal sederhana, melihat salah satu anaknya pergi ke Gereja. Bagi orang lain, mungkin ini berlebihan, tetapi tidak bagi bapak dan mamak. Setelah sekian lama, abangku pergi ke Gereja lagi dan itu dengan inisiatifnya sendiri. Aku pun turut senang. Dengan begitu banyak hal terjadi pada keluarga kami, rasanya wajar sekali bapak bahagia. Aku pun menelepon orang tuaku dan terdengar nada suara bahagia dari bapak, begitu pula mamak. Selain berita tersebut, beberapa hari sebelumnya abangku juga memberi tahuku bahwa ia sedang training kerja. Semoga ini adalah awal yang baik. :)
Biasanya hampir setiap akhir minggu (weekend) aku melakukan hal buruk. Tapi hari Sabtu dan Minggu kemarin aku tidak melakukan hal buruk itu. Berhasil! Senangnya.. Semoga hal itu berhasil untuk minggu-minggu seterusnya. ^_^
Hari Minggu pagi, bermain badminton, menyenangkan walau bola ke mana-mana dan net yang dipakai adalah net untuk permainan bola voli, yang notabene, tinggi sekali. Sore hari pun berolahraga kembali. Kali ini basket. Dimulai dari jam 4 sore ketika lapangan masih sepi, hanya aku dan Riris. Setelah sekian lama vakum dari dunia perbasketan, pendekar-pendekar basket kembali (agak lebay).. Sekitar satu jam bermain basket, akhirnya kami pergi dari lapangan basket karena lapangan semakin dipenuhi orang-orang yang mau bermain basket.
Ternyata (menurut Riris) basket belum membuat berkeringat, jadi kami pun bermain badminton, satu lawan satu. Olah raga ini memang lebih menguras tenaga dan sedikit pikiran tapi menyenangkan, bisa meluapkan energi-energi jelek. Hampir satu jam lebih kami bermain badminton, datanglah Dian melihat. Riris pun bermain dengan Dian, kemudian aku dan Riris melawan Dian. Menurutku ini seimbang, hehe.. Tidak terasa kami selesai bermain sekitar jam 6 lewat, artinya sudah satu jam lebih atau sudah dua jam lebih kami berolah raga. Benar-benar menyenangkan, salah satu hal yang kusuka.
Selesai berolah raga, aku kembali ke kamar dan melihat telepon genggamku, ada beberapa sms dan panggilan tak terjawab. Salah satunya dari no bapak. Ternyata di sms tersebut bapak merasa bahagia. Apa hal yang membuatnya bahagia? Hal sederhana, melihat salah satu anaknya pergi ke Gereja. Bagi orang lain, mungkin ini berlebihan, tetapi tidak bagi bapak dan mamak. Setelah sekian lama, abangku pergi ke Gereja lagi dan itu dengan inisiatifnya sendiri. Aku pun turut senang. Dengan begitu banyak hal terjadi pada keluarga kami, rasanya wajar sekali bapak bahagia. Aku pun menelepon orang tuaku dan terdengar nada suara bahagia dari bapak, begitu pula mamak. Selain berita tersebut, beberapa hari sebelumnya abangku juga memberi tahuku bahwa ia sedang training kerja. Semoga ini adalah awal yang baik. :)
Thursday, February 16, 2012
Input Output
"A journey of thousand miles begins with a single step" -Confusius
Lampung,
Kadang berpikir sangat keras, apa yang salah dengan diriku sehinga murid-murid belum mengerti juga. Apa yang salah dari pengajaranku? Aku malah menyalahkan mereka. Beberapa kali aku sempat berpendapat, bahwa yang salah adalah mereka atau orang-orang yang mengajarkan mereka sebelumnya sehingga input murid-murid yang aku dapat bukan yang bagus. Namun setelah aku renungkan lebih dalam, justru itulah tugas guru sebenarnya. Apa pun input yang didapat, dengan kemampuan guru, mereka diharapkan keluar dengan baik. Aku tersadarkan saat itu dan mulai menemukan kembali tujuan dari pekerjaanku. Perjalanan mereka masih panjang dan aku ada di bagian hidup mereka, semoga aku menjadi bagian yang baik bagi mereka. Aku mau berbuat lebih baik lagi!
Friday, February 10, 2012
Jakarta - Lampung
Lampung,
Aku teringat kejadian sekitar dua minggu lalu. Saat itu hari Senin, tanggal dua puluh tiga Januari 2012, perayaan Imlek. Aku dan tiga orang kawan guru hendak kembali ke Lampung untuk bekerja. Kami berkumpul di mesjid Merak jam tiga sore. Akan tetapi setelah menunggu, kami baru bisa beli tiket ferry sekitar pukul empat sore. Ternyata kami harus menunggu lagi di dermaga 3, karena ferry baru saja membongkar muatan dan para penumpang baru hendak turun. Kami pun naik ferry, tapi menunggu lagi sebelum kapal benar-benar berangkat.
Ketika aku di Merak, angin sudah bertiup kencang sekali, membawa debu dan membuat pohon yang besar pun bergoyang. Sempat kuatir dengan keadaan angin. Ketika kapal berada di tengah lautan, kapal bergoyang cukup kencang. Beberapa orang pun merasa mual. Tak lama ada pengumuman bahwa keadaan laut kurang baik, sehingga penyebrangan dari Bakau pun ditutup. Kami pun berharap bisa tiba di Bakauheni dengan selamat. Syukurlah kami pun tiba dengan selamat sekitar pukul tujuh malam. Di Bakauheni, banyak penumpang terlantar karena penyebrangan dari Bakau ditutup. Ternyata tak lama setelah penyebrangan dari Bakau ditutup, penyebrangan dari Merak pun ditutup. Nampaknya cuaca memang tidak begitu baik.
Di Bakau kami pun menunggu mobil yang akan menjemput kami. Lagi-lagi kami menunggu, karena mobil tersebut terjebak macet. Kami menunggu sambil mengobrol dan memantau keadaan mobil tersebut. Lama tak kunjung datang, kami pun berinisiatif untuk naik ojek ke tempat mobil kami terjebak macet. Supir mobil tidak menjelaskan dengan baik keadaan mobil. Jadilah kami menunggu di pinggir jalan. Rasa lapar dan badan yang kurang sehat, membuat aku duduk dan makan nasi padang yang aku beli di Bakau. Syukurlah setelah itu badanku agak sehat. Sudah jam 9 lewat, tapi belum ada kepastian. Akhirnya kami bertemu dengan supir tersebut. Ternyata mobil kami ada di tengah mobil-mobil lain dan tidak bisa bergerak dan tidak tahu kapan bisa bergerak. Kami berencana untuk naik travel lain dan mengganti uang bensin-supir tersebut. Namun, supir dan bosnya kurang sepakat dengan kami atau dengan jumlah uang yang kami tawarkan. Sempat terjadi perdebatan, tapi supir tersebut merelakan kami pergi dengan catatan belum ada kesepakatan mengenai uang pengganti.
Salah satu dari kami mencari travel yang mau mengantarkan kami ke perkebunan tebu, tempat kami bekerja. Setelah bernegoisiasi alot, kami pun mendapatkan travel tersebut. Kami pun berangkat ke Tanjung Karang untuk menjemput satu orang guru lagi. Belum jauh dari Bakau, di tengah perjalanan ada beberapa warga yang sedang berselisih, seperti sedang tawuran. Untungnya mereka tidak mengganggu perjalanan mobil-mobil yang melalui jalan tersebut.
Lima jam perjalanan, kami pun tiba di perkebunan tebu sekitar pukul 2 pagi. Masih ada waktu tidur 3 jam, aku pun langsung beberes sebentar dan tidur. Perjalanan dengan berbagai peristiwa di dalamnya.
Aku teringat kejadian sekitar dua minggu lalu. Saat itu hari Senin, tanggal dua puluh tiga Januari 2012, perayaan Imlek. Aku dan tiga orang kawan guru hendak kembali ke Lampung untuk bekerja. Kami berkumpul di mesjid Merak jam tiga sore. Akan tetapi setelah menunggu, kami baru bisa beli tiket ferry sekitar pukul empat sore. Ternyata kami harus menunggu lagi di dermaga 3, karena ferry baru saja membongkar muatan dan para penumpang baru hendak turun. Kami pun naik ferry, tapi menunggu lagi sebelum kapal benar-benar berangkat.
Ketika aku di Merak, angin sudah bertiup kencang sekali, membawa debu dan membuat pohon yang besar pun bergoyang. Sempat kuatir dengan keadaan angin. Ketika kapal berada di tengah lautan, kapal bergoyang cukup kencang. Beberapa orang pun merasa mual. Tak lama ada pengumuman bahwa keadaan laut kurang baik, sehingga penyebrangan dari Bakau pun ditutup. Kami pun berharap bisa tiba di Bakauheni dengan selamat. Syukurlah kami pun tiba dengan selamat sekitar pukul tujuh malam. Di Bakauheni, banyak penumpang terlantar karena penyebrangan dari Bakau ditutup. Ternyata tak lama setelah penyebrangan dari Bakau ditutup, penyebrangan dari Merak pun ditutup. Nampaknya cuaca memang tidak begitu baik.
Di Bakau kami pun menunggu mobil yang akan menjemput kami. Lagi-lagi kami menunggu, karena mobil tersebut terjebak macet. Kami menunggu sambil mengobrol dan memantau keadaan mobil tersebut. Lama tak kunjung datang, kami pun berinisiatif untuk naik ojek ke tempat mobil kami terjebak macet. Supir mobil tidak menjelaskan dengan baik keadaan mobil. Jadilah kami menunggu di pinggir jalan. Rasa lapar dan badan yang kurang sehat, membuat aku duduk dan makan nasi padang yang aku beli di Bakau. Syukurlah setelah itu badanku agak sehat. Sudah jam 9 lewat, tapi belum ada kepastian. Akhirnya kami bertemu dengan supir tersebut. Ternyata mobil kami ada di tengah mobil-mobil lain dan tidak bisa bergerak dan tidak tahu kapan bisa bergerak. Kami berencana untuk naik travel lain dan mengganti uang bensin-supir tersebut. Namun, supir dan bosnya kurang sepakat dengan kami atau dengan jumlah uang yang kami tawarkan. Sempat terjadi perdebatan, tapi supir tersebut merelakan kami pergi dengan catatan belum ada kesepakatan mengenai uang pengganti.
Salah satu dari kami mencari travel yang mau mengantarkan kami ke perkebunan tebu, tempat kami bekerja. Setelah bernegoisiasi alot, kami pun mendapatkan travel tersebut. Kami pun berangkat ke Tanjung Karang untuk menjemput satu orang guru lagi. Belum jauh dari Bakau, di tengah perjalanan ada beberapa warga yang sedang berselisih, seperti sedang tawuran. Untungnya mereka tidak mengganggu perjalanan mobil-mobil yang melalui jalan tersebut.
Lima jam perjalanan, kami pun tiba di perkebunan tebu sekitar pukul 2 pagi. Masih ada waktu tidur 3 jam, aku pun langsung beberes sebentar dan tidur. Perjalanan dengan berbagai peristiwa di dalamnya.
Sunday, February 05, 2012
Pemain Bola
Lampung,
Aku menyukai sepak bola. Bukan karena banyak pemain ganteng seperti yang sering diteriakkan banyak perempuan tapi karena aku memang suka bola dan melihat pertandingannya bisa membuat diriku berteriak-teriak. :D
Aku punya beberapa pemain idola. Hampir semua pemain Milan adalah pemain favoritku. Ada Paolo Maldini, Gennaro Gattuso, Abbiati, Dida, Ambrosini, Andrea Pirlo, Nesta, dan yang lainnya. Itu sepertinya efek dari Milan adalah klub favoritku. Idolaku yang lain adalah Andriy Shevchenko dan Ricardo Izecson dos Santos Leite atau lebih dikenal dengan panggilan Kaka. Mereka berdua pernah bermain di Milan dalam waktu yang cukup lama. Beberapa gelar mereka raih bersama Milan. Kini Kaka bermain untuk Real Madrid.
Kalau ada kesempatan, aku pasti berusaha menonton pertandingan mereka. Tapi tadi subuh aku melewatkan satu pertandingan Madrid. :( Biasanya orang mengidolakan pemain bola karena kemampuannya mengolah bola, atau tendangan-tendangan kerasnya, atau karena kecepatannya. Nah, aku juga kagum dengan Kaka karena kemampuannya, terlebih kemampuannya melihat keadaan lapangan dan mengoper bola ke teman setimnya. Tapi selain itu aku juga kagum dengan kehidupannya di luar lapangan. Baru kali ini ada pemain bola yang bisa mengingatkanku untuk tidak berbuat buruk. Jadi setiap mau melakukan hal buruk itu, aku ingat dia dan seperti tersadar dan berusaha untuk tidak melakukannya.
How a great football player!
Aku menyukai sepak bola. Bukan karena banyak pemain ganteng seperti yang sering diteriakkan banyak perempuan tapi karena aku memang suka bola dan melihat pertandingannya bisa membuat diriku berteriak-teriak. :D
Aku punya beberapa pemain idola. Hampir semua pemain Milan adalah pemain favoritku. Ada Paolo Maldini, Gennaro Gattuso, Abbiati, Dida, Ambrosini, Andrea Pirlo, Nesta, dan yang lainnya. Itu sepertinya efek dari Milan adalah klub favoritku. Idolaku yang lain adalah Andriy Shevchenko dan Ricardo Izecson dos Santos Leite atau lebih dikenal dengan panggilan Kaka. Mereka berdua pernah bermain di Milan dalam waktu yang cukup lama. Beberapa gelar mereka raih bersama Milan. Kini Kaka bermain untuk Real Madrid.
Kalau ada kesempatan, aku pasti berusaha menonton pertandingan mereka. Tapi tadi subuh aku melewatkan satu pertandingan Madrid. :( Biasanya orang mengidolakan pemain bola karena kemampuannya mengolah bola, atau tendangan-tendangan kerasnya, atau karena kecepatannya. Nah, aku juga kagum dengan Kaka karena kemampuannya, terlebih kemampuannya melihat keadaan lapangan dan mengoper bola ke teman setimnya. Tapi selain itu aku juga kagum dengan kehidupannya di luar lapangan. Baru kali ini ada pemain bola yang bisa mengingatkanku untuk tidak berbuat buruk. Jadi setiap mau melakukan hal buruk itu, aku ingat dia dan seperti tersadar dan berusaha untuk tidak melakukannya.
How a great football player!
Wednesday, January 18, 2012
Tiga Hari
Lampung,
Sudah tiga hari ini, dari hari Senin hingga Rabu malam ini, perasaanku banyak yang tidak enak, kesal, sedih, marah, stres, semua yang kurang menyenangkan. Hari Senin, ketika ada seorang guru langsung menuduh murid-muridku main-main di tempat parkir motor dan memarahi mereka. Padahal saat itu sedang kegiatan ekstrakurikuler dan aku meminta mereka (anak-anak klub matematika) untuk memodelkan tempat parkir. Setelah aku memberi keterangan dan guru tersebut tahu, dia hanya menjawab "ooh". Masih di tempat yang sama, ketika guru lain bilang bahwa kegiatan yang aku lakukan bersama murid-muridku kurang kerjaan. Entah maksudnya mungkin bercanda, tapi rasanya kurang pas, dan dia guru fisika. Apakah semua orang matematika dianggap aneh dan kurang kerjaan? Bukankah banyak ilmu dari ahli matematika justru datang ketika mereka sedang melakukan kegiatan atau mengamati sesuatu, bukan karena mereka duduk di depan meja?
Hari Selasa pagi sepertinya tidak ada masalah. Sampai hal itu rusak ketika aku meminta hasil fotokopian. Semua persyaratan yang diminta sudah aku penuhi, formulir, waktu pemberian formulir, tanda tangan orang-orang yang bersangkutan tapi sampai H+1, aku masih harus menunggu. Parahnya lagi ini bukan kejadian yang pertama aku alami berkaitan dengan fotokopi. Akhirnya aku diberi tahu, bahwa fotokopi yang aku minta sudah ada. Aku sempat bertanya, ini memang sudah difotokopi dari kemarin atau baru difotokopi hari ini? Jawabannya "Kertasnya dibawa, sudah dari kemarin." Aku pun hanya menanggapi dengan sopan karena orang yang aku tanya juga bukan orang yang bertanggung jawab atas hal ini. Siang hari aku ambil kertas-kertas tersebut. Sempat heran, dengan potongan-potongan tidak rapi yang ada di kertas tersebut. Kalau memang difotokopi di luar sekolah, kenapa potongannya tidak rapi begini, dan biasanya di luar sekolah, kertas ukuran A4 tidak difotokopi di kertas A3. Tidak mau berburuk sangka, tapi aku tidak bisa menahannya. Apakah karena kertas yang aku fotokopi hanya lembar ujian biasa bukan lembar ujian kelas 12? Atau apakah karena aku guru biasa bukan bos atau pimpinan di sekolah? Atau karena aku pernah menolak pekerjaan yang diberikan kepadaku?
Malam ini, Rabu malam.. Sempat merasa pusing dan mual. Malam tadi pun sempat terbangun dan pikiran tidak karuan, ingin marah, tapi tidak tahu kepada siapa. Hingga sore hari masih lancar, tidak ada masalah yang begitu berarti. Tapi ketika lihat FB, terasa "sesak" di dada. Ataukah ini rasa iri belaka? Mungkin ada baiknya jika aku memang tidak bisa mengakses FB dari koneksi internet sekolah.
Semoga besok tidak ada yang membuat pusing atau mual lagi.
Sudah tiga hari ini, dari hari Senin hingga Rabu malam ini, perasaanku banyak yang tidak enak, kesal, sedih, marah, stres, semua yang kurang menyenangkan. Hari Senin, ketika ada seorang guru langsung menuduh murid-muridku main-main di tempat parkir motor dan memarahi mereka. Padahal saat itu sedang kegiatan ekstrakurikuler dan aku meminta mereka (anak-anak klub matematika) untuk memodelkan tempat parkir. Setelah aku memberi keterangan dan guru tersebut tahu, dia hanya menjawab "ooh". Masih di tempat yang sama, ketika guru lain bilang bahwa kegiatan yang aku lakukan bersama murid-muridku kurang kerjaan. Entah maksudnya mungkin bercanda, tapi rasanya kurang pas, dan dia guru fisika. Apakah semua orang matematika dianggap aneh dan kurang kerjaan? Bukankah banyak ilmu dari ahli matematika justru datang ketika mereka sedang melakukan kegiatan atau mengamati sesuatu, bukan karena mereka duduk di depan meja?
Hari Selasa pagi sepertinya tidak ada masalah. Sampai hal itu rusak ketika aku meminta hasil fotokopian. Semua persyaratan yang diminta sudah aku penuhi, formulir, waktu pemberian formulir, tanda tangan orang-orang yang bersangkutan tapi sampai H+1, aku masih harus menunggu. Parahnya lagi ini bukan kejadian yang pertama aku alami berkaitan dengan fotokopi. Akhirnya aku diberi tahu, bahwa fotokopi yang aku minta sudah ada. Aku sempat bertanya, ini memang sudah difotokopi dari kemarin atau baru difotokopi hari ini? Jawabannya "Kertasnya dibawa, sudah dari kemarin." Aku pun hanya menanggapi dengan sopan karena orang yang aku tanya juga bukan orang yang bertanggung jawab atas hal ini. Siang hari aku ambil kertas-kertas tersebut. Sempat heran, dengan potongan-potongan tidak rapi yang ada di kertas tersebut. Kalau memang difotokopi di luar sekolah, kenapa potongannya tidak rapi begini, dan biasanya di luar sekolah, kertas ukuran A4 tidak difotokopi di kertas A3. Tidak mau berburuk sangka, tapi aku tidak bisa menahannya. Apakah karena kertas yang aku fotokopi hanya lembar ujian biasa bukan lembar ujian kelas 12? Atau apakah karena aku guru biasa bukan bos atau pimpinan di sekolah? Atau karena aku pernah menolak pekerjaan yang diberikan kepadaku?
Malam ini, Rabu malam.. Sempat merasa pusing dan mual. Malam tadi pun sempat terbangun dan pikiran tidak karuan, ingin marah, tapi tidak tahu kepada siapa. Hingga sore hari masih lancar, tidak ada masalah yang begitu berarti. Tapi ketika lihat FB, terasa "sesak" di dada. Ataukah ini rasa iri belaka? Mungkin ada baiknya jika aku memang tidak bisa mengakses FB dari koneksi internet sekolah.
Semoga besok tidak ada yang membuat pusing atau mual lagi.
Subscribe to:
Posts (Atom)