Lampung..
Apakah semua harus dikomentari? Apakah kita mau dibandingkan dengan orang lain? Mengapa kita harus membandingkan orang lain? Bukankah perbandingan itu untuk tumbuhan, hewan atau benda mati?
Terkadang kita berkomentar tanpa kita tahu bahwa itu menyakiti. Memang niat baik, tidak selalu berakhir dengan baik, dilihat dari cara kita menyampaikan niat baik itu. Bukannya aku tidak mau berkomentar, tapi apa yang telah aku alami, membuatku tersadar. Jika kita belum bisa berbuat seperti apa yang dikomentari oleh teman kita, rasa2nya tidak pantas juga kita berkomentar ke orang lain.
Nah, tata bahasa di sini kacau, hehe.. Hari sabtu atau minggu aja diperbaiki, emang otaknya juga lagi berbelok belok.
Tuesday, October 13, 2009
Saturday, October 10, 2009
Wajah polos
Lampung..
Lihatlah raut muka anak kecil itu,
lucu, polos, dan tanpa dosa
tawa lepas keluar dari mulutnya
pancaran sinar terus keluar dari wajahnya
Tangannya digerakkan
Kakinya bermain dengan lincah
Matanya menatap penuh harapan
Itulah kebahagiaan yang alami
Lihatlah raut muka anak kecil itu,
lucu, polos, dan tanpa dosa
tawa lepas keluar dari mulutnya
pancaran sinar terus keluar dari wajahnya
Tangannya digerakkan
Kakinya bermain dengan lincah
Matanya menatap penuh harapan
Itulah kebahagiaan yang alami
Friday, October 09, 2009
There's a sea
My best friend sent this to me..
There's a sea between us, love
and I wish that it weren't true,
for every day when I awake
I yearn to be with you.
There are many miles between us, love,
though you're always here in my heart,
and every night,
beneath the silver starlight,
I pray for the day we'll never part.
Miles between Us," written by Bobette Bryan, 2001
There's a sea between us, love
and I wish that it weren't true,
for every day when I awake
I yearn to be with you.
There are many miles between us, love,
though you're always here in my heart,
and every night,
beneath the silver starlight,
I pray for the day we'll never part.
Miles between Us," written by Bobette Bryan, 2001
Tuesday, October 06, 2009
Apakah ini iri?
Lampung..
Kulihat Facebook dan Friendster, dua webiste yang menghubungkan kita dengan teman-teman, saudara bahkan idola kita. Dari kedua website ini, aku mengetahui kabar dari teman-temanku yang sudah lama tak kujumpai. Ada teman-teman yang mencari nafkah di tengah ramainya kota Jakarta, berusaha mengikuti perkembangan ibukota Indonesia ini. Ada teman-teman yang berada di luar pulau Jawa, bekerja sambil menikmati keindahan alam negeri ini. Ada teman-teman yang bekerja di negeri orang, menghidupi diri dan menjelajahi ruas-ruas jalan di sana. Ada teman-teman yang mengenyam pendidikan dengan kurikulum dari luar negeri, mahasiswa master atau doktor.
Sepertinya dalam benakku ada sedikit, hmm, atau banyak rasa iri. Aku ingin menjadi salah satu dari mereka walau aku tahu apa yang kudapat di sini juga sebuah anugerah yang harus kusyukuri. Tapi masih tersirat keinginan untuk pergi ke tempat lain, aku ingin merasakan suasana di tempat lain.
Suatu ketika, ayahku berkata bahwa ia meminta maaf sebab penghasilanku digunakan untuk kepentingan keluarga, padahal aku bisa saja melanjutkan pendidikanku. Saat itu aku ingin menitikkan air mata. Tidak seharusnya ia meminta maaf karena tidak ada kesalahan yang ia buat mengenai kelanjutan studiku.
Setelah kuresapi lebih lama, aku tahu semua itu masih mungkin terjadi. Tapi aku tetap harus bersyukur dan menjalani hari-hariku ini terlebih dahulu sampai saat itu datang.Kulihat Facebook dan Friendster, dua webiste yang menghubungkan kita dengan teman-teman, saudara bahkan idola kita. Dari kedua website ini, aku mengetahui kabar dari teman-temanku yang sudah lama tak kujumpai. Ada teman-teman yang mencari nafkah di tengah ramainya kota Jakarta, berusaha mengikuti perkembangan ibukota Indonesia ini. Ada teman-teman yang berada di luar pulau Jawa, bekerja sambil menikmati keindahan alam negeri ini. Ada teman-teman yang bekerja di negeri orang, menghidupi diri dan menjelajahi ruas-ruas jalan di sana. Ada teman-teman yang mengenyam pendidikan dengan kurikulum dari luar negeri, mahasiswa master atau doktor.
Sepertinya dalam benakku ada sedikit, hmm, atau banyak rasa iri. Aku ingin menjadi salah satu dari mereka walau aku tahu apa yang kudapat di sini juga sebuah anugerah yang harus kusyukuri. Tapi masih tersirat keinginan untuk pergi ke tempat lain, aku ingin merasakan suasana di tempat lain.
Suatu ketika, ayahku berkata bahwa ia meminta maaf sebab penghasilanku digunakan untuk kepentingan keluarga, padahal aku bisa saja melanjutkan pendidikanku. Saat itu aku ingin menitikkan air mata. Tidak seharusnya ia meminta maaf karena tidak ada kesalahan yang ia buat mengenai kelanjutan studiku.
Monday, October 05, 2009
Hilang
Lampung..
Kini kurasakan ada yang hilang dalam diriku. Kemarin hal itu terlintas di benakku. Apa yang aku cari? Apa tujuan dari semua ini? Ke mana aku harus mencari yang hilang?
Kadangkala, kita terus bekerja tapi tak tahu alasan dari pekerjaan itu. Aku ingin bermain, aku ingin belajar merajut, aku ingin belajar bahasa karo, aku ingin belajar bahasa jepang. Banyak yang ingin ku lakukan. Aku juga masih punya kewajiban. Hingga saat ini, yang kulakukan adalah untuk keluarga.
Kini kurasakan ada yang hilang dalam diriku. Kemarin hal itu terlintas di benakku. Apa yang aku cari? Apa tujuan dari semua ini? Ke mana aku harus mencari yang hilang?
Kadangkala, kita terus bekerja tapi tak tahu alasan dari pekerjaan itu. Aku ingin bermain, aku ingin belajar merajut, aku ingin belajar bahasa karo, aku ingin belajar bahasa jepang. Banyak yang ingin ku lakukan. Aku juga masih punya kewajiban. Hingga saat ini, yang kulakukan adalah untuk keluarga.
Saturday, October 03, 2009
Tetap berdoa, berharap, dan bekerja keras
Lampung..
Ketika aku kecil, aku melihat orang berumur 24 tahun. Saat itu dalam pikiranku, orang dengan umur seperti ini, pastilah sudah dewasa, sudah bekerja, dan bisa hidup sendiri. Sekarang aku berumur 24 tahun. Tapi, aku tidak seperti bayanganku ketika masih kecil. Masih banyak hal yang belum kulakukan secara dewasa. Adakah istilah terlambat dewasa?
Ketika aku kecil hingga aku kuliah tingkat 3, aku tinggal bersama keluarga di rumah milik sendiri. Kini aku bersama keluarga tinggal di rumah kontrakan dengan penghasilan dari berdagang. Aku bersyukur karena aku masih bersama kedua orang tuaku dan kedua kakakku.
Ketika aku kecil, kami hidup cukup, tidak ada yang perlu dikuatirkan. Kini, kadang kami harus meminjam uang atau mencicil karena tidak sanggup membayar. Rumah pun sudah dijual.
Banyak hal yang terjadi, tapi itu adalah masa lalu. Ayahku berkata, itu semua masa lalu. Sekarang kita hadapi masa kini, yang sedang kita jalani. Kami sekeluarga harus bekerja sama dan bekerja keras. Waktu yang telah dilalui begitu saja tidak bisa diulang. Tapi kami bisa menyongsong waktu yang akan datang dengan inovasi baru.
Kadang aku berpikir, bahwa masalah yang kuhadapi tidak sebanding dengan masalah orang lain. Orang lain tidak berkeluh kesah dengan masalah mereka, kenapa aku harus menyesali masalah yang terjadi padaku. Mereka bisa bersemangat, mengapa aku tidak bisa? Saat ini, aku merasa jauh dari Tuhan. Perbuatan2ku yang tidak sesuai dengan kehendakNya membuat jarak antara aku denganNya. Aku masih dikendalikan dengan keinginan dagingku, bukan keinginan roh.
Tapi aku masih berharap karena aku tahu Ia masih ada di sampingku. Berharap agar keluargaku baik-baik saja. Berharap agar aku bisa kembali dekat denganNya. Berharap bahwa semua bisa kulalui dengan semua kekuatan dan bantuanNYA.
Ketika aku kecil, aku melihat orang berumur 24 tahun. Saat itu dalam pikiranku, orang dengan umur seperti ini, pastilah sudah dewasa, sudah bekerja, dan bisa hidup sendiri. Sekarang aku berumur 24 tahun. Tapi, aku tidak seperti bayanganku ketika masih kecil. Masih banyak hal yang belum kulakukan secara dewasa. Adakah istilah terlambat dewasa?
Ketika aku kecil hingga aku kuliah tingkat 3, aku tinggal bersama keluarga di rumah milik sendiri. Kini aku bersama keluarga tinggal di rumah kontrakan dengan penghasilan dari berdagang. Aku bersyukur karena aku masih bersama kedua orang tuaku dan kedua kakakku.
Ketika aku kecil, kami hidup cukup, tidak ada yang perlu dikuatirkan. Kini, kadang kami harus meminjam uang atau mencicil karena tidak sanggup membayar. Rumah pun sudah dijual.
Banyak hal yang terjadi, tapi itu adalah masa lalu. Ayahku berkata, itu semua masa lalu. Sekarang kita hadapi masa kini, yang sedang kita jalani. Kami sekeluarga harus bekerja sama dan bekerja keras. Waktu yang telah dilalui begitu saja tidak bisa diulang. Tapi kami bisa menyongsong waktu yang akan datang dengan inovasi baru.
Kadang aku berpikir, bahwa masalah yang kuhadapi tidak sebanding dengan masalah orang lain. Orang lain tidak berkeluh kesah dengan masalah mereka, kenapa aku harus menyesali masalah yang terjadi padaku. Mereka bisa bersemangat, mengapa aku tidak bisa? Saat ini, aku merasa jauh dari Tuhan. Perbuatan2ku yang tidak sesuai dengan kehendakNya membuat jarak antara aku denganNya. Aku masih dikendalikan dengan keinginan dagingku, bukan keinginan roh.
Tapi aku masih berharap karena aku tahu Ia masih ada di sampingku. Berharap agar keluargaku baik-baik saja. Berharap agar aku bisa kembali dekat denganNya. Berharap bahwa semua bisa kulalui dengan semua kekuatan dan bantuanNYA.
Friday, October 02, 2009
Rencana Tuhan
Lampung, 2 Oktober 2009, 22:00 WIB
Semua yang kita alami merupakan rencana Tuhan. Itulah salah satu kalimat yang aku dengar dari seorang yang aku kagumi, dan masih ku ingat sampai sekarang. Dia berkata, tidak ada namanya pencobaan atau ujian hidup. Kegagalan yang kita alami adalah rencana dari Tuhan, dan Dia berikan untuk keselamatan kita. Kadang kegagalan diberikan agar kita tidak menjadi sombong dengan apa yang kita miliki, agar kita ingat bahwa semua itu adalah pemberian Tuhan.
Dua hari kemarin, ada gempa yang terjadi di Padang, pukul 17.16 WIB. Gempa dengan kekuatan yang besar. Gempa ini membuat banyak korban jiwa. Keesokan hari terjadi gempa di Jambi. Apakah rencana Tuhan sehingga ini terjadi? Apakah kita telah lupa dengan pemberianNya? Atau kita terlalu bersemangat merusak pemberianNya?
Tapi aku masih yakin, ini adalah rencana Tuhan walau aku masih belum mengerti arti dari kejadian ini. Semoga semua keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.
Semua yang kita alami merupakan rencana Tuhan. Itulah salah satu kalimat yang aku dengar dari seorang yang aku kagumi, dan masih ku ingat sampai sekarang. Dia berkata, tidak ada namanya pencobaan atau ujian hidup. Kegagalan yang kita alami adalah rencana dari Tuhan, dan Dia berikan untuk keselamatan kita. Kadang kegagalan diberikan agar kita tidak menjadi sombong dengan apa yang kita miliki, agar kita ingat bahwa semua itu adalah pemberian Tuhan.
Dua hari kemarin, ada gempa yang terjadi di Padang, pukul 17.16 WIB. Gempa dengan kekuatan yang besar. Gempa ini membuat banyak korban jiwa. Keesokan hari terjadi gempa di Jambi. Apakah rencana Tuhan sehingga ini terjadi? Apakah kita telah lupa dengan pemberianNya? Atau kita terlalu bersemangat merusak pemberianNya?
Tapi aku masih yakin, ini adalah rencana Tuhan walau aku masih belum mengerti arti dari kejadian ini. Semoga semua keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.
Subscribe to:
Posts (Atom)